Tuesday, March 15, 2011

Bahaya Paparan Sindrom Radiasi Akut

0 comments

Tanda-tanda orang terkena radiasi tidak selalu muncul belakangan, ada juga yang bisa dikenali saat itu juga terutama jika tingkat radiasinya cukup tinggi. Gejalanya bervariasi mulai dari kulit kering, mual-muntah hingga tewas seketika. Berbagai gejala yang muncul tidak lama setelah terkena radiasi disebut Acute Radiation Syndrome (ARS). Makin tinggi tingkat radiasinya, makin cepat efeknya muncul atau dirasakan oleh korban dan makin besar juga peluangnya untuk menyebabkan kematian. 

Sindrom semacam ini banyak dialami oleh korban pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 dan tragedi Chernobyl tahun 1986. Pasalnya tingkat radiasi yang dilepaskan dalam peristiwa tersebut sangat tinggi sehingga memicu gejala yang sifatnya akut. Dalam tragedi Chernobyl tahun 1986, sedikitnya 134 pekerja dan petugas pemadam kebakaran terpapar radiasi sebesar 80-1.600 rem. Dari jumlah tersebut 2 orang tewas pada hari itu juga, sedangkan 23 orang tewas dalam 3 bulan berikutnya, semuanya berhubungan dengan radiasi yang diterima.

Sementara itu gejala yang mungkin teramati berdasarkan tingkat radiasinya adalah sebagai berikut:
  • 5-10 rem. Terjadi kerusakan sel, perubahan komposisi kimia darah serta peningkatan risiko kanker. Pada paparan radiasi sebesar ini jarang ada gejala yang bisa diamati karena efeknya akan muncul dalam jangka panjang, antara 5-20 tahun kemudian.
  • 50-55 rem. Berbagai keluhan ringan seperti perut mual, kepala pusing dan rasa letih merupakan gejala yang sering dirasakan pada tingkatan ini. Kadang-kadang disertai dequamation atau pengelupasan kulit, bibir kering dan mata pedih.
  • 70-75 rem. Pada tingkatan ini, radiasi bisa menyebabkan orang muntah-muntah. Bagi yang lebih sensitif, rambut akan mulai mengalami kerontokan.
  • 350-400 rem. Bisa memicu kematian dalam 2 bulan berikutnya.
  • Lebih dari 500 rem. Bisa memicu kematian dalam 30 hari berikutnya.
    • Keterangan: 1 rem setara dengan 10.000 microsieverts (mcSv)
Meski tidak selalu memunculkan gejala yang mudah dikenali, dampak radiasi tetap saja mengkhawatirkan. Justru ketika radiasi yang rendah itu memicu kerusakan di tingkal sel, dampak kronisnya tidak kalah serius karena bisa menyebabkan kanker dan mutasi genetik. Terlebih karena sumber radiasi tidak melulu reaktor nuklir, melainkan juga dari benda-benda yang sering ditemui sehari-hari mulai dari. Meski rendah, radiasi yang dipancarkan jika tidak dikendalikan maka bisa memicu dampak jangka panjang.

Berikut ini adalah sumber-sumber radiasi yang bisa ditemui di lingkungan sehari-hari, beserta perkiraan tingkat radasi yang dipancarkan dalam setahun.
  • 3.500-4.000 mcSv. Radiasi pada tingkat ini bisa ditemui jika tinggal di dataran tinggi, atau melakukan pemindaian dengan sinar X berkekuatan paling tinggi.
  • 1.500-2.000 mcSv. Sumber radiasi di rumah, terutama berasal dari retakan dinding dan fondasi. Bebatuan dan material lain yang berasal dari perut bumi mengandung Radium (Ra) yang bisa lepas menjadi gas radioaktif yakni Radon (Rn) jika pecah atau mengalami keretakan.
  • Kurang dari 1.500 mcSv. Berbagai perangkat radiologi di rumah sakit memancarkan radiasi kurang dari 1.500 mSv.
Berdasarkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di AS, sindrom radiasi akut atau Acute Radiation Syndrome (ARS), dikenal juga sebagai keracunan radiasi, adalah penyakit serius. Hal ini dapat terjadi sesaat setelah tubuh terpapar radiasi. Tingkat penderitaan seseorang terhadap radiasi tergantung pada seberapa jumlah radiasi yang terserap tubuh. Berikut ini adalah sejumlah fakta mengenai sindrom radiasi akut:
  • Seseorang dikatakan menderita sindrom radiasi akut ketika radiasi terserap ke organ dalam. Radiasi dari sinar X dan tindakan medis seperti CT-scan terlalu rendah untuk menyebabkan seseorang terkena sindrom radiasi akut.
  • Seseorang dikatakan menderita sindrom radiasi akut ketika dirinya terpapar radiasi selama beberapa waktu. Bisa saja dalam hitungan menit.
  • Gejala awal dapat dirasakan beberapa menit hingga beberapa hari setelah seseorang terpapar radiasi. Gejala tersebut dapat berupa muntah-muntah, diare, dan mabuk atau pening. Gejala ini dapat berlangsung hingga hitungan hari.
  • Setelah gejala awal hilang, seseorang kembali bugar. Namun, tak lama kemudian, orang tersebut akan menderita kembali. Bahkan, kali ini lebih parah. Gejalanya dapat berupa kelelahan, demam, kehilangan nafsu makan, muntah, dan diare. Tahap ini dapat berlangsung selama beberapa bulan.
  • Kerusakan pada kulit akibat radiasi dapat timbul dalam hitungan jam. Hal ini dapat bertahan hingga hitungan tahun, tergantung seberapa parah seseorang terpapar radiasi. Gejalanya, kulit terasa perih dan bahkan terasa seperti terbakar. Rambut pun dapat menjadi rontok akibat radiasi.
  • Terpapar radiasi dapat saja berujung pada kematian, tergantung tingkat keparahannya. Biasanya, pada banyak kasus, kematian terjadi beberapa bulan setelah seseorang terpapar radiasi. Kematian diakibatkan rusaknya tulang sumsum, infeksi, atau pendarahan.
  • Seseorang yang selamat dari sindrom radiasi akut dapat terus merasakan gejala hingga dua tahun setelah terpapar.
  • Perawatan yang dilakukan bagi seseorang yang terpapar radiasi terdiri dari tindak pencegahan dari kontaminasi lebih lanjut, mengurangi gejala sindrom, dan penyembuhan organ yang rusak akibat radiasi.
  • Dekontaminasi adalah proses menghilangkan kontaminasi eksternal oleh partikel radioaktif.  Dekontaminasi bisa berupa melepas seluruh pakaian dan sepatu yang dipakai seseorang yang terpapar radiasi. Membasuh tubuh juga dapat mengurangi kontaminasi eksternal.
(WHO) menyakinkan untuk sementara risiko membahayakan dari kebocoran reactor itu terhadap kesehatan masyarakat tergolong sangat rendah. Adanya risiko itu dimungkinkan berasal dari kontaminasi radioaktif yang terbawa angin ke Perairan Pasifik. Berikut serba-serbi mengenai bahaya radioaktif.

a. Apa yang terjadi jika kita terkena radiasi tingkat tinggi?
Paparan radiasi dapat menyebabkan keracunan yang mengakibatkan kerusakan signifikan pada jaringan tubuh manusia bisa berupa penuaan dini bahkan kematian. Paparan radiasi timgkat rendah dalam jangka panjang juga bisa memperburuk kesehatan. Dilaporkan, beberapa pekerja di salah satu reaktor menunjukkan gejala sakit akibat radiasi selama bencana.

b. Apa saja gejala keracunan radiasi?
Mual, muntah, dan diare biasanya merupakan gejala awal dan muncul dalam semenit atau beberapa hari setelah terkena radiasi. Bahkan, jika seseorang memiliki sindrom radiasi akut dan gejala muncul hanya beberapa menit, mereka masih mungkin terlihat baik-baik saja, tapi hanya sementara. Gejala tambahan pada akhirnya akan mengikuti termasuk hilangnya nafsu makan, kelelahan, demam, dan mungkin kejang-kejang dan koma. Tahap ini mungkin berlangsung beberapa jam atau beberapa bulan. Radiasi keracunan juga biasanya menyebabkan kerusakan kulit.

c. Seberapa kadar radiasi yang berbahaya?
Radiasi diukur dalam skala Sieverts dan efek keracunan radiasi juga bergantung pada jumlah Sieverts. Contohnya, 1 Sievert radiasi dapat menyebabkan pendarahan dan 2.000 Sieverts dapat menyebabkan kehilangan kesadaran dalam hitungan menit dan kematian dalam hitungan jam.

d. Apakah keracunan radiasi bisa ditangani?
Bisa, namun hanya dalam beberapa kasus. Kalium iodida dapat memblokir yodium radioaktif saat dibawa ke kelenjar tiroid, melindunginya dari cedera. Namun, tidak akan melindungi bagian tubuh yang lain, atau sebaliknya merusak tiroid.

Friday, January 14, 2011

Efek Limbah Deterjen Bagi Lingkungan

0 comments

Kita tentu sudah akrab dengan detergen, selama ini kita mengenal detergent sebagai bubuk pembersih pakaian. Sebenarnya deterjen adalah senyawa organik, yang memiliki dua kutub dan bersifat non-polar karakteristik. Ada tiga jenis deterjen yaitu anionic, kationik, dan non-ionik. Anionic dan permanen kationik memiliki muatan negatif dan positif yang melekat pada non-polar (hidrofobik) C-C rantai. Detergen non-ionik tidak mempunyai muatan ion tetap, hal ini terjadi karena mereka memiliki jumlah atom yang lemah elektropositif dan elektronegatif yang disebabkan oleh kekuatan menarik elektron atom oksigen.

Ada dua jenis karakteristik detergent yang berbeda yaitu fosfat deterjen dan surfaktan deterjen. Pada umumnya deterjen yang mengandung fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan surfaktan adalah jenis deterjen yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu adalah deterjen surfaktan lebih berbusa dan bersifat emulsifying deterjen. Disisi lain fosfat detergent adalah deterjent yang membantu menghentikan kotoran dalam air.

Zat yang terkandng didalam detergent juga digunakan dalam formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol polyethoxylates (non-ion) dapat menyebabkan pembentukan alkylphenols (terutama nonylphenols) yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika limbah detergent bercampur dengan air limbah lain di saluran air.

Deterjen fosfat tinggi seperti tri-natrium fosfat (TSP) dapat dibeli di beberapa toko cat dan perangkat keras. Pembersihan secara teratur dengan deterjen fosfat tinggi telah terbukti efektif dalam mengurangi debu di yang terdapat di jendela dan di sekitar pintu.

Apa yang terjadi jika limbah deterjent bercampur dengan air?
Deterjent memiliki efek beracun dalam air. Semua deterjent menghancurkan lapisan eksternal lendir yang melindungi ikan dari bakteri dan parasit, selain itu detergent dapat menyebabkan kerusakan pada insang. Kebanyakan ikan akan mati bila konsentrasi deterjent 15 bagian per juta. Detergent dengan konsentrasi rendah pun sebanyak 5 ppm tetap dapat membunuh telur ikan. Surfaktan deterjen pun tak kalah berbahaya karena jenis detergent ini terbukti mengurangi kemampuan perkembangbiakan organisme perairan.

Deterjen juga memiliki andil besar dalam menurunkan kualitas air. Bahan kimia organik seperti pestisida dan fenol akan mudah diserap oleh ikan, dengan konsentrasi deterjen hanya 2 ppm dapat diserap ikan dua kali lipat dari jumlah bahan kimia lainnya.

Detergent juga memberi efek negatif bagi biota air. Fosfat dalam deterjen dapat memicu ganggang air tawar bunga untuk melepaskan racun dan menguras oksigen di perairan. Ketika ganggang membusuk, mereka menggunakan oksigen yang tersedia untuk mempertahankan hidupnya.

Saturday, December 4, 2010

Bahaya Sabun Antibakteri

0 comments

Rumus Struktur Triclosan
Sabun antibakteri yang menjanjikan dapat membunuh kuman tampaknya sudah tidak asing lagi di masyarakat. Tetapi sudah banyak pula penelitian yang menyatakan bahwa sabun antibakteri yang mengandung triclosan dan triclocarban dapat membahayakan kesehatan manusia dan juga lingkungan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sabun antibakteri yang mengandung triclosan dan triclocarban diduga dapat merusak organ reproduksi, menurunkan kualitas sperma, serta produksi tiroid dan hormon seks.

Triclosan dan triclocarban telah dikaitkan dengan gangguan endokrin, dengan dampak potensial yang merugikan perkembangan seksual dan saraf. Selain dalam sabun antibakteri, triclosan juga sering dipakai dalam pasta gigi dan kosmetik. Bahkan saat pertama kali ditemukan 50 tahun lalu, senyawa ini juga digunakan untuk membersihkan permukaan kulit saat operasi. Penelitian lain menemukan bahwa kandungan triclosan pada pasta gigi yang seharusnya dapat mencegah pertumbuhan bakteri, malah dapat menyebabkan kuman-kuman makin kebal terhadap antibiotik.

Penelitian laboratorium menunjukkan senyawa ini dapat menyebabkan mutasi gen pada beberapa jenis bakteri, di antaranya E coli, Salmonella dan Listeria. Dikhawatirkan mutasi itu akan membuat pengobatan infeksi menjadi tidak efektif.

Tak hanya itu, penelitian terbaru juga menemukan bahwa triclosan dan triclocarban dapat merusak lingkungan, terutama menyebabkan polusi air dan tanah. Limbah triclosan dan triclocarban yang terbawa oleh air akan bercampur dengan tanah dan lingkungan air alami. Limbah triclosan dan triclocarban ini berbahaya karena tidak dapat terurai selama berbulan-bulan bahkan hingga tahunan.

Bahan kimia dari senyawa ini terdiri dari struktur cincin benzena yang terklorinasi, sehingga membuatnya sangat sulit untuk dipecah atau terurai. Selain itu, kedua senyawa ini juga menolak air atau hidrofobik, cenderung menempel pada partikel, sehingga mengakibatkan penurunan ketersediaan proses dan merusak fasilitasi transportasi jangka panjang dalam air dan udara. Bahkan sebuah studi menemukan bahwa akumulasi triclosan di air menyebabkan pencemaran di pantai yang akhirnya mengancam kehidupan lumba-lumba.

Monday, October 25, 2010

Pertolongan Pertama Pada Keracunan

0 comments

Pertolongan pertama pada keracunan sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat secara umum, karena keracunan dapat terjadi dimana saja dan melalui berbagai jalan masuk, bisa dengan tertelan, terhirup, diserap melalui kulit, tetesan pada mata, atau disuntikkan. Setelah berada dalam tubuh, racun masuk kedalam aliran darah dan dengan cepat menyebar ke semua jaringan. Gejalanya bisa bermacam-macam, tergantung dari jenis dan cara masuk racun.gajala yang paling umum adalah muntah, yang terjadi pada sebagian besar korban dengan risiko masuknya isi lambung kedalam paru-paru.

Untuk mencegah/menghentikan penyerapan racun, dapat dilakukan beberapa hal berikut:
  • Bila Racun Ditelan
  1. Encerkan racun yang ada dalam lambung sekaligus menghalangi penyerapannya. Cairan yang dapat dipakai adalah air putih, susu atau telur mentah.
  2. Kosongkan lambung. Tindakan ini hanya efektif bila dilakukan maksimal 4 jam setelah racun ditelan. Pengosongan lambung dapat dilakukan dengan merangsang muntah atau bilas lambung. Perangsangan muntah dilakukan dengan memberi segelas air atau susu lalu meranngsang dinding faring dengan jari. Namun perangsangan muntah dan bilas lambung tidak boleh dilakukan pada:
    • Keracunan zat korosif, asam/basa kuat, fenol, striknin
    • Keracunan senyawa hidrokarbon, minyak tanah, bensin
    • Penurunan kesadaran atau kejang
  • Bila Racun Melalui Kulit/Mata:
  1. Pakaian yang tercemar dilepas
  2. Cuci/bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun. Dapat digunakan asam cuka encer untuk menetralkan basa atau natrium bikarbonat encer untuk menetralkan asam. Jangan gunakan zat lain
  • Bila racun melalui inhalasi: Pindahkan penderita ke tempat yang aman
  • Bila racun melalui suntikan: Pasang turniketproksimal dari tempat suntikan. Jaga agar denyut arteri bagian dinstal masih teraba dan lepasskan selama 1 menit setiap 15 menit.

Keracunan Makanan
Bisa disebabkan makanan yang sudah tercemar oleh kuman atau oleh toksin yang dihasilkan kuman yang sudah ada di dalam makanan. Keracunan makanan akibat kuman biasanya oleh kuman salmonella (terdapat pada hewan ternak, terutama unggas). Gejalanya dapat timbul dalam beberapa jam atau setelah satu hari atau lebih. Keracunan makanan akibat toksin biasanya akibat toksin yang dibuat oleh kuman staphyllococcus, gejalanya timbul dengan cepat, bisa dalam 2-6 jam setelah makanan dimakan.
  • Gejala:
    • Mual dan muntah
    • Kejang perut dan sakit perut
    • Diare (bisa berdarah)
    • Sakit kepala, demam
    • Syok,kolaps
  • Mencegah Keracunan Makanan:
    • Daging dan unggas beku harus dicairkan secara saksama sebelum dimasak
    • Daging, daging unggas dan telur harus benar-benar masak agar kuman mati
    • Jangan menyimpan makanan hangat terlalu lama karena bakteri dapat berkembang biak tanpa gejala kerusakan yang jelas
    • Tangan harus benar-benar bersih ketika menyiapkan makanan.


Sunday, June 20, 2010

Pestisida Dan Penanganan Keracunannya

1 comments

Serangga dan binatang lainnya banyak yang memberikan keuntungan dalam kehidupan manusia, namun disamping itu ada pula yang merugikan kehidupan manusia, kerugian yang ditimbulkan antara lain :
  • Dapat menularkan peyakit ( Malaria, Diare, Filariasis, Yellow fever, dll. )
  • Dapat merusak pertanian
  • Dapat menganggu kenyamanan dll.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, perlu diperhatikan cara penanggulangan yang tepat dan tidak mencemari lingkungan.

Pengendalian
Pengendalian serangga dan binatang penular penyakit adalah upaya pemberantasan dengan melakukan usaha-usaha yang tepat sehingga tidak menjadi masalah bagi kesehatan/kehidupan manusia. Ada beberapa cara penanggulangan/ pemberantasan serangga dan binatang penular (hama) penyakit yaitu :

Cara Biologi yaitu pengendalian hama dengan menggunakan binatang predator, misalnya untuk memberantas jentik nyamuk Aedes Aegipty dan Anopheles sp. Menggunakan ikan cupang, ikan kepala timah dsb.

Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management) adalah dengan merobah lingkungan , misalnya dengan penimbunan genangan-genangan air, pengeringan, manipulasi lingkungan dengan memberikan kadar air yang berbeda terhadap perindukan nyamuk anopheles, sehingga menjadi perindukan ang tidak sesuai dengan habitat alaminya, dan sebagainya.

Mekanis yaitu dengan cara memukul, perangkap dan sebagainya.

Cara Kimiawi (Chemical Control) yaitu menggunakan bahan-bahan kimia yang disemprotkan, difumigasikan, atau menjadi umpan beracun.

Dari beberapa cara pengendalia diatas hal yang akan di uraikan pada kesempatan kali ini adalah pengendalian hama (serangga dan binatang penular Penyakit) dengan mengunakan cara kimiawi (Pestisida) dan cara pencegahan keracunannya.

Pengertian Pestisida
Sesuai dengan PP No 7 tahun 1973 yang dimaksud dengan Pestisida adalah Semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
  • Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
  • Memberantas hama air
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang atau jasad renik dalam rumah, bangunan dan alat-alat pengangkutan.
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan menggunakan pada tanah, air dan tanaman.
Klasifikasi Pestisida
Menurut jenisnya pestisida dapat dibedakan, antara lain yaitu :
  • Akarisida untuk mengendalikan tungau
  • Bakterisida untuk mengendalikan bakteri
  • Fungisida untuk mengendalikan cendawan
  • Herbisida untuk mengendalikan gulma/tumbuhan pengganggu
  • Insektisida untuk mengendalikan serangga
  • Moluskisida untuk mengendalikan 
  • Nematisida untuk mengendalikan Cacing
  • Pisisida untuk mengendalikan ikan pengganggu/ yang tidak dikehendaki.
  • Rodentisida untuk mengendalikan tikus
  • Repelen untuk mengusir serangga
  • Atraktan untuk menarik serangga
Formulasi Pestisida
Bentuk formulasi pestisida adalah wujud fisik yang sesuai dengan wujud dari suatu formulasi dan mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan tujuan penggunaanya, adapun beberapa bentuk formulasi sebagai berikut :
  • WP (Wettebel Powder): tepung yang dapat disuspensikan
  • SP (Solubel Powder): tepung yang dapat larut dalam air
  • D (Dust): Debu
  • G (Granular): Butiran
  • AS (Aqueous Solution): Larutan dalam Air
  • EC (Emulsifiable Consentrate): Pekatan yang dapat diemulsikan
  • WSC (Water Souble Consentrate): Pekatan yang dapat larut dalam air
  • OC (Oil Concentrate): Larutan dalam Minyak
  • SC (Suspencion Concentrate): Pekatan Konsentrate
  • S (Suspention): Suspensi
  • E (Emulsion): Emulsi.
  • KT (Kertas Tissue) dan sebagainya

Prinsip Pengendalian Insektisida
  • Insektisida pada Pengendalian Lalat
Prinsip pengendalian lalat adalah usaha sanitasi, membatasi tempat perindukan, dan melindungai makanan dari keterjangkauan lalat, adapun dengan pestisida yaitu :

Pemberantasan Tingkat Larva
Saat ini yang paling banyak digunakan adalah pestisida golongan Organofosfat, sintetik peritroid, golongan IGR. Untuk anti larva digunakan diazinon dengan dosis 0,3-1,0 gr/m2 .

Pemberantasan Tingkat Dewasa
Tekhnik yang digunakan adalah dengan cara residual sprey dan insektisida berbentuk WP (wetebel Powder) Karena mempunyai masa residu yang lebih lama di bandingkan dengan bentuk EC (emulsifier concentrate). Namun sebelumnya perlu dilakukan survey evektifitas pestisida terhadap lalat dosisi yang pas dan tidak mencemari lingkungan. Selain itu dengan menggunakan cara inpregneted strip yaitu mencelupkan pita pada insektisida, serta dipasang dimana lalat suka beristirahat, atau mengunakan umpan dengan mencampur bahan makanan kesuakaan lalat (gula, susu dsb.) dengan racun (formaldehidyde) sangat efektif membunuh lalat.
  • Insektisida pada Pengendalian Kecoa
Pemberantasan kecoa dapat dilakukan dengan cara memanaskan ruangan sampai 49 derajat celcius atau mendinginkan sampai 0 derajat celcius slama 60 menit. Sementara jika menggunakan bahan kimia yaitu menggunakan cara residual sprey

1. Cara menyeluruh ke permukaan ruangan yang di anggap banyak kecoanya
2. Spot penyemprotan dilakukan pada tempat-tempat tertentu.
Adapun jenis bahan racunnya yaitu : Bendiocarb, chlorfirifos, diazinon, dichlorfos, propoxur dll.
  • Insektisida pada Pengendalian Nyamuk
Dari kebiasaan nyamuk mencari makan dapat ditentukan jenis penyemprotan yang tepat sehingga memperoleh hasil yang optimal, adapun cara penyemprotannya antara lain :

Untuk nyamuk yang hinggap di permukaan dinding sebelum dan sesudah menghisap darah, residual spreying merupakan tindakan yang tepat. Semua permukaan dinding bagian dalam rumah/bangunan harus disemprot dengan insektisida dengan dosis tertentu misalnya dengan golongan sintetik peritroid, golongan OP atau golongan karbamat. Siklus penyemprotan dipertimbangkan dengan musim kepadatan nyamuk dan lama residu dari insektisida yang digunakan.

Impregneted Bed Net
Pemberantasan nyamuk dewasa bisa juga dengan cara mengoleskan/merendam kelambu dengan insektisida golongan sintetik piretroid, misalnya dengan insektisida permetrin dosis 0,5 gr/m2.

Penyemprotan ruang (space spraying)
Penyemprotan ruang (space spraying) dilakukan terhadap nyamuk anopheles yang mempunyai kebiasaan menghisap darah/istirahat di luar rumah. Penyemprotan ruang dapat dilakukan dengan cold fog atau thermal fog. Juga dalam pemberantasan nyamuk Aedes sp. Penyemprotan ruang merupakan tindakan yang biasanya dilakukan, karena kebiasaan nyamuk yang kurang suka hinggap/istirahat pada permukaan dinding. Adapun insektisida yang di gunakan yaitu chlorfirifos, fenthion, propoxur, naled, fenthion, malathion, dichlorfos dll.

Untuk Pemberantasan Larva nyamuk dapat di gunakan jenis larvasida methoda kontak yaitu dengan bahan kimia themofos, Bacilus thuringiensis, H-14 dll.
  • Insektisida pada pengendalian Tikus
Tikus disamping dapat membawa penyakit juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar terhadap kehidupan manusia, sebagai penular penyakit tikus melalui pinjal (Xynopsila cheopis) yang akan menularkan penyakit pes, juga penyakit murine thypus yang disebabkan oleh riketsia, penyakit lain adalah rat bit fever, salmonilosis dll. Adapun penanganan tikus dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan :

Umpan (bait)
Ada beberapa keuntungan dengan menggunakan umpan yaitu:
  • Biasanya yang digunakan sudah dalam bentuk siap pakai
  • Tidak mencakup semua permukaan daerah sasaran
  • Bila menggunakan rodentisida anti koagulan tidak menimbulkan bait shyness.
  • Traking powder 
Adalah racun tikus dalam bentuk butiran halus yang ditempatkan pada jalan-jalan tikus antara lobang dengan tempat makanan, rodentisida tersebut akan menempel pada kaki, bulu-bulu dan menelan pada saat tikus menelan pada waktu melakukan aktifitasnya ( mengerat ). Jenis racun anti koagulan yaitu Pival, zing fosfat, Warfarin dll.

Fumigasi
Adalah kegiatan menebarkan bahan pestisida bentuk gas secara cepat ke seluruh tempat sasaran yang tertutup, fumigasi dapat membunuh semua hama yang ada dalam ruangan yang di fumigasi. Bahan yang digunakan untuk fumigasi adalah : HCN, Methil bromide, Sulfur dll.

Keamanan / Penanggulangan Keracunan 
Ketika bekerja dengan pestisida, hal yang paling penting adalah pertimbangan keamanan, meliputi keamanan terhadap penggunaan, orang lain dan binatang piaraan maupun juga lingkungan secara umum. Toksisitas dan daya racun Pestisida adalah racun yang membahayakan, secara umum toksisitas dapat diukur dengan menggunakan LD50 (letal dose 50) yaitu bahan kimia yang dapat mematikan 50% hewan uji (biasanya tikus) semakin kecil nilai LD50 maka bahan kimia tersebut semakin beracun Jalan pestisida masuk ke dalam tubuh dapat melalui :

Keracunan Melalui Kulit (Dermal)
Keracunan melalui kulit ini dapat melalui percikan atau rembesan ke dalam kulit saat pencampuran atau saat menggunakan baju yang sudah terkontaminasi oleh racun. Bahaya keracunan seperti ini dapat dikurangi dengan cara :
  • Penanganan pesticida secara hati-hati untuk menghindari rembesan atau tumpahan.
  • Gunakan pakaian pelindung yang memadai
  • Cuci secara langsung jika terjadi kontaminasi
  • Hindari pemaparan saat menyemprot
  • Ganti dan cuci semua pakaian pelindung ketika selesai melakukan penyemprotan.
Keracunan Melalui Oral
Walaupun jarang terjadi Namun akibat yang ditimbulkan akan lebih parah, hal ini bisa terjadi makanan yang tidak sengaja terkontaminasi dengan racun, hal ini dapat dihindari dengan cara :
  • Jangan menyimpan pestisida dekat dengan makanan dan minuman
  • Jangan mengangkut pestisida dicampur dengan bahan makannan
  • Apabila terjadi keracunan maka upayakan dimuntahkan, atau segera bawa ke rumah sakit.
Keracunan Pestisida secara Inhalasi
Bahan kimia yang mudah menguap biasanya penyabab utama dari keracunan yang disebabkan melalui inhalasi (pernafasan), sebagai tambahan perhatikan ventilasi pada saat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengn pestisida, keracunan melalui inhalasi dapat dihindari dengan tindakan pencegahan sebagai berikut :
  • Meminimumkan drift ( percikan pestisida ), gunakan tekanan spray yang tepat
  • Gunakan alat pelindung diri ( Masker dll )
  • Saat bekerja perhatikan dan pastikan ventilasi baik
  • Apabila terjadi terhirup segera hindari sumber pencemar dan segera berobat ke rumah sakit atau balai pengobatan terdekat.
Gejala - gejala Umum Keracunan Pestisida 
Gejala keracunan dapat timbul secara sendiri atau gabungan, adalah sebagai berikut :
  • Umum - lemah atau kelelahan
  • Kulit - iritasi, terbakar, berkeringat.
  • Mata - iritasi, mata merah, penglihatan kabur, mata berair, pupil melebar atau menyempit.
  • Sistem Pencernaan - mulut atau kerongkongan terbakar, keluar air ludah, muntah, sakit atau kram perut, diare.
  • Sistem Pernafasan - sulit bernafas, batuk-batuk, sakit dada.

Wednesday, June 2, 2010

Toksisitas Pestisida Organophosphat dan Penanganannya

9 comments

Pestisida adalah bahan kimia untuk membunuh hama (insekta, jamur dan gulma). Sehingga pestisida dikelompokkan menjadi :
  • Insektisida (pembunuh insekta)
  • Fungisida ( pembunuh jamur)
  • Herbisida (pembunuh tanaman pengganggu)
Pestisida  telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan di rumah tangga untuk memberantas nyamuk, kepinding, kecoa dan berbagai serangga penganggu lainnya. Di lain pihak pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan keracunan pada orang. Kematian yang disebabkan oleh keracunan pestisida banyak dilaporkan baik karena kecelakaan waktu menggunakannya, maupun karena disalahgunakan (untuk bunuh diri). Dewasa ini bermacam-macam jenis pestisida telah diproduksi dengan usaha mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya daya toksisitas pada manusia, tetapi sangat toksik pada serangga.
Diantara jenis atau pengelompokan pestisida tersebut diatas, jenis insektisida banyak digunakan dinegara berkembang, sedangkan herbisida banyak digunakan di negara yang sudah maju. Dalam beberapa data Negara-negara yang banyak menggunakan pestisida adalah sebagai berikut
  • Amerika Serikat 45%
  • Eropa Barat 25%
  • Jepang 12%
  • Negara berkembang lainnya 18%
Dari data tersebut terlihat bahwa negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan pestisida masih tergolong rendah. Bila dihubungkan dengan pelestarian lingkungan maka penggunaan pestisida perlu diwaspadai karena akan membahayakan kesehatan bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya.

Kasus-kasus toksisitas organofosfat:
  • Menurut WHO, WHO (World Health Organisation) 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara-negara berkembang terkena racun pestisida dan sekitar 18.000 orang diantaranya meninggal setiap tahunnya.
  • Sepanjang kurun waktu 2004-2008  terjadi keracunan fatal insektisida sebanyak 20 orang. Sembilan belas kasus (95%) meninggal karena bunuh diri menggunakan Carbanat dan satu orang (5%) keracunan organosfosfat karena kecelakaan. Korban wanita sebanyak 80% dan kebanyakan berusia antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida. Penyalahgunaan insektisida untuk tujuan bunuh diri mungkin terjadi oleh karena ketersediaannya di tingkat keluarga maupun kemudahan untuk memperoleh di pasaran.
Klasifikasi Pestisida
Pestisida dapat digolongkan menurut penggunaannya dan disubklasifikasi menurut jenis bentuk kimianya. Dari bentuk komponen bahan aktifnya maka pestisida dapat dipelajari efek toksiknya terhadap manusia maupun makhluk hidup lainnya dalam lingkungan yang bersangkutan.

Klasifikasi
Bentuk Kimia
Bahan aktif
Keterangan
1. Insektisida
Botani


Carbamat




Organofosfat






Organochlorin
Nikotine
Pyrethrine
Rotenon
Carbaryl
Carbofuran
Methiocorb

Thiocarb
Dichlorovos
Dimethoat

Palathion
Malathion
Diazinon
Chlorpyrifos
DDT
Lindane
Dieldrin
Eldrin
Endosulfan
gammaHCH
Tembakau
Pyrtrum
-
toksik kontak
toksik sistemik
bekerja pada lambung
juga moluskisida
toksik kontak
toksik kontak, sistemik

toksik kontak
toksik kontak
kontak dan ingesti

kontak, ingesti
persisten
persisten
kontak, ingesti
kontak, ingesti
Herbisida
Aset anilid
Amida
Diazinone
Carbamate

Triazine

Triazinone
Atachlor
Propachlor
Bentazaone
Chlorprophan
Asulam
Athrazin
Metribuzine
Metamitron
Sifat residu

Kontak




Toksin kontak
Fungisida
Inorganik



Benzimidazole
Hydrocarbon-phenolik
Bordeaux mixture
Copper oxychlorid
Mercurous chloride
Sulfur
Thiabendazole
Tar oil
Protektan
Proteoktan


Protektan, sistemik
Protektan, kuratif


Organofosfat
Lebih dari 50.000 komponen organofosfat telah disynthesis dan diuji untuk aktivitas insektisidanya. Tetapi yang telah digunakan tidak lebih dari 500 jenis saja dewasa ini. Semua produk organofosfat tersebut berefek toksik bila tertelan, dimana hal ini sama dengan tujuan penggunaannya untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida digunakan untuk keperluan medis misalnya fisostigmin, edroprium dan neostigmin yang digunakan utuk aktivitas kholinomimetik (efek seperti asetyl kholin). Obat tersebut digunakan untuk pengobatan gangguan neuromuskuler seperti myastinea gravis. Fisostigmin juga digunakan untuk antidotum pengobatan toksisitas ingesti dari substansi antikholinergik (mis: trisyklik anti depressant, atrophin dan sebagainya). Fisostigmin, ekotiopat iodide dan organophosphorus juga berefek langsung untuk mengobati glaucoma pada mata yaitu untuk mengurangi tekanan intraokuler pada bola mata. 

         a)  Struktur Komponen Organofosfat
Organophosphat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Bahan tersebut digunakan untuk gas saraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal synthesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion, sarin dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap orang (mis: malathion), tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.

struktur komponen organofosfat

        b)  Mekanisme Toksisitas Organosphosfat
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa.  Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Acetylcholine Receptors

Penghambatan kerja enzim terjadi karena organofosfat melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil.


Tabel Nilai LD50 Insektisida Organofosfat

        c. Gejala Keracunan
Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimilasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi.saraf pusat maupun perifer.

Tabel. Efek muskarinik, nikotinik dan saraf pusat pada toksisitas organofosfat
Efek
Gejala
1. Muskarinik
-          Salivasi, lacrimasi, urinasi dan diaree (SLUD)
-          Kejang perut
-          Nausea dan vomitus
-          Bradicardia
-          Miosis
-          Berkeringat
2. nikotinik
-          Pegal-pegal, lemah
-          Tremor
-          Paralysis
-          Dyspnea
-          Tachicardia
3. sistem saraf pusat
-          Bingung, gelisah, insomnia, neurosis
-          Sakit kepala
-          Emosi tidak stabil
-          Bicara terbata-bata
-          Kelemahan umum
-          Convulsi
-          Depresi respirasi dan gangguan jantung
-          Koma


Gejala awal seperti SLUD terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.

Penatalaksanaan Penanganan Kasus Keracunan Organofosfat
Seperti bahan kimia beracun lainnya,  organofosfat dapat meracuni orang dengan beberapa cara: melalui kulit dan mata, melalui mulut (dengan menelan), atau melalui udara (dengan bernapas). Setiap kasus keracunan, tindakan yang diambil untuk orang yang terpapar berbeda tergantung cara pemaparan.

      a) Bila kulit terkena organofosfat
Kebanyakan keracunan organofosfat terjadi akibat terserapnya organofosfat melalui kulit. Hal ini terjadi ketika organofosfat dituang dan tumpah, atau terciprat ketika campuran organofosfat diaduk sebelum disemprotkan, atau ketika Anda menyentuh tanaman yang baru saja disemprot. Organofosfat juga dapat menyentuh kulit melalui pakaian atau ketika Anda mencuci pakaian yang terkena organofosfat.

Kulit yang ruam dan iritasi adalah gejala awal terjadinya keracunan melalui kulit. Mengingat bahwa gejala kulit tersebut bisa terjadi karena hal-hal lain, seperti reaksi terhadap tanaman tertentu, gigitan serangga, infeksi, atau alergi, maka sulit untuk mengetahui apakah gejala yang timbul ini akibat organofosfat atau reaksi terhadap hal lain. 

Bicarakanlah dengan pekerja lainnya untuk mengetahui apakah mereka mengalami reaksi yang serupa saat bekerja dengan tanaman pangan yang sama. Jika Anda bekerja dengan organofosfat dan mengalami ruam kulit, lebih baik segera ditangani seolah-olah gejala tersebut disebabkan oleh organofosfat.

Perawatan
  • Jika tubuh Anda atau orang lain terkena organofosfat: Organofosfat dapat melekat di kulit, rambut dan pakaian walaupun Anda tidak dapat melihat atau menciumnya. 
  • Cucilah dengan sabun setiap kali selesai menggunakan organofosfat.
  • Cepat ganti pakaian yang terkena percikan organofosfat.
  • Segera cuci bagian tubuh yang terkena organofosfat dengan sabun dan air dingin.
  • Jika organofosfat masuk ke mata, cucilah mata dengan air bersih selama 15 menit.
  • Jika kulit Anda melepuh akibat organofosfat: 
  • Bersihkan dengan air dingin. 
  • Jangan lepaskan apa pun  yang menempel di luka tersebut.
  • Jangan oleskan salep, minyak, atau mentega.
  • Jangan pecahkan kulit yang melepuh.Jangan lepaskan kulit yang terkelupas.
  • Tutup kulit yang melepuh dengan kasa steril, jika ada. 
  • Jika rasa sakit tidak hilang, segera cari bantuan pengobatan! Bawalah wadah organofosfat atau informasi nama organofosfat yang digunakan. Hal ini perlu untuk memberikan pengobatan yang tepat.

    b) Bila organofosfat tertelan
Organofosfat dapat tertelan jika seseorang makan, minum, atau merokok di kebun sambil bekerja dengan organofosfat, atau meminum air yang sudah terkontaminasi oleh organofosfat. Anak-anak dapat memakan atau meminum organofosfat terutama jika organofosfat disimpan dalam wadah yang juga digunakan untuk menyimpan makanan, atau dibiarkan di tempat terbuka atau di tempat yang rendah, mudah terjangkau oleh anak-anak.

Perawatan
  • Bila seseorang menelan organofosfat
  • Bila orang tersebut tidak sadar, baringkan dalam posisi miring dan pastikan ia tetap bernapas.
  • Bila orang tersebut tidak bernapas, cepat berikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut. Memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut dapat membuat Anda terpapar organofosfat juga, jadi gunakan masker saku, sepotong kain, atau kantong plastik tipis yang tengahnya sudah dilubangi sebelum Anda memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut.
  • Cari kemasan organofosfatnya dan segera baca label atau informasi yang tertera. Label ini akan menjelaskan apakah Anda harus membuatnya memuntahkan racunnya atau tidak.
  • Bila orang tersebut dapat minum, berikan banyak air bersih untuk diminum.
  • Carilah pertolongan medis. Jika mungkin, bawalah selalu label atau nama organofosfat agar mendapat pertolongan yang paling tepat.
  • Jangan sampai muntah bila label melarang muntah. Bila Anda menelan organofosfat yang mengandung bensin, minyak tanah, xylene, atau cairan lain yang mengandung bahan bakar, jangan pernah muntah karena akan memperburuk kondisi. Disamping itu, jangan biarkan orang tersebut muntah bila ia tidak sadarkan diri, bingung, atau tubuhnya gemetar.
  • Bila Anda yakin label menyatakan boleh dimuntahkan, berikan orang tersebut: segelas air garam atau 2 sendok makan tumbukkan daun-daunan beraroma keras (seperti seledri, kemangi, atau daun-daunan lokal lainnya) dengan 1 atau 2 gelas air hangat.
  • Ajak penderita bergerak terus; ini akan membantu muntah lebih cepat. Setelah muntah, berikan arang aktif atau arang bubuk. Hal ini akan membantu menyerap sisa racun yang masih ada di dalam perut.
  • Campurkan ½ cangkir arang aktif atau 1 sendok makan arang bubuk dengan air hangat dalam gelas besar. Arang bubuk dibuat dari kayu yang dibakar, atau bahkan dari roti bakar atau tortilla (roti tipis dari jagung, biasa dimakan orang Mexico) bakar. Arang aktif lebih baik daripada arang bubuk, namun arang bubuk juga dapat dipakai. JANGAN gunakan arang briket karena beracun!!
  • Setelah orang tersebut muntah, atau bahkan bila ia tidak muntah, Anda dapat memperlambat penyebaran racun dalam perjalanan ke dokter dengan memberikannya minuman: 1 butir putih telur, atau segelas susu sapi murni. Minum susu tidak mencegah keracunan organofosfat namun dapat memperlambat penyebaran racun. 
Jika seseorang menelan organofosfat dan tidak mengalami sakit perut hebat, mereka dapat minum sorbitol atau magnesium hidroksida (campuran air dengan magnesium hidroksida yang menghasilkan cairan berwarna putih susu). Obat ini akan menyebabkan diare yang mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

Kapan menggunakan atropin
Atropin adalah obat untuk mengatasi keracunan dari jenis organofosfat tertentu yang disebut organofosfat dan karbamat. Jika label pada kemasan menyatakan agar menggunakan atropin, atau jika dikatakan bahwa organofosfat itu merupakan “cholinesterase inhibitor” (suatu bahan kimia yang menghentikan proses ensim kholinesterase), gunakan atropin sesuai petunjuk. Jika label tidak menganjurkan penggunaan atropin, jangan gunakan.

Atropin hanya digunakan untuk keracunan organofosfat atau karbamat. Atropin TIDAK dapat mencegah keracunan tetapi hanya menunda dampak keracunan. Atropin sebaiknya tidak digunakan sebelum penyemprotan.

PENTING: Jangan memberikan obat-obat ini untuk masalah keracunan organofosfat: obat tidur (sedatif), morfin, barbiturat, phenothiazine, aminophylline, atau obat lain yang memperlambat atau mempersulit pernapasan karena akan membuat orang tersebut berhenti bernapas.

     c) Bila Organofosfat Terhirup
Bila organofosfat dilepas ke udara, kita menghirupnya melalui hidung dan mulut. Begitu masuk ke paru-paru, dengan cepat organofosfat masuk ke dalam darah dan menyebar racun ke seluruh tubuh.

Beberapa organofosfat tidak berbau sehingga sulit diketahui keberadaannya di udara. Umumnya bentuk organofosfat yang menyebar di udara adalah fumigan (pengasap), aerosol, pengabut, bom asap, pest strips (organofosfat yang dilekat pada potongan kertas), penyemprot, dan residu dari penyemprotan. Anda dapat pula menghirup debu organofosfat di tempat penyimpanan, atau saat sedang digunakan di dalam ruangan tertutup seperti rumah kaca, atau ketika sedang diangkut ke lahan pertanian.

Debu yang mengandung organofosfat di udara dapat menyebar dan mengotori wilayah yang jauh dari tempat dimana bahan ini digunakan. Dengan demikian debu organofosfat mudah masuk ke dalam rumah-rumah. Bila Anda merasa telah menghirup organofosfat, segeralah menjauh dari organofosfat! Jangan tunggu sampai kondisi memburuk.

Perawatan Jika Anda atau orang lain menghirup organofosfat:
  • Tinggalkan segera daerah di mana ia menghirup racun, terutama jika dalam ruangan tertutup.
  • Hiruplah udara segar. Longgarkan pakaian untuk memudahkan bernapas.
  • Duduk dengan posisi kepala diangkat dan bahu ditegakkan.
  • Bila orang tersebut tidak sadarkan diri, baringkan dalam posisi miring • dan awasi agar ia dapat bernapas dengan lancar.
  • Bila orang tersebut tidak bernapas, segera lakukan pernapasan dari mulut ke mulut
  • Carilah pertolongan medis. Bawa serta label informasi atau nama organofosfatnya.
  • Jika ragu-ragu, segeralah keluar!


Blog Award

 

FaiK Share. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution of FaiK theme by FaiK MuLaCheLLa | Distributed by Blogger Templates Blog Corp