Thursday, May 26, 2011

Book "Konflik dan Reformasi TNI di Era SBY"

0 comments

Untuk pertama kali dalam sejarah, rakyat Indonesia memilih secara langsung pemimpin politik tertingginya pada tanggal 20 September 2004. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan pengusaha Muhammad Jusuf Kalla terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam pemilu yang dicatat sebagai pemilu yang aman, jujur dan demokratis, serta mendapat penghargaan luas di panggung internasional.

Namun, ada kekhawatiran atas naiknya SBY jadi presiden. Ia bagaimanapun tumbuh dan dibesarkan dalam era kepemimpinan otoriter di mana militer merupakan kekuatan dominan yang memiliki privilese dan prerogatif besar. Ia juga jadi presiden tidak lepas dari dukungan meluas dari kekuatan militer, khususnya para purnawirawan. Namun, di luar kekhawatiran akan kembalinya militer dalam politik, gerakan masyarakat sipil sendiri memiliki begitu banyak kelemahan, khususnya soal agenda gerakan sipil yang berceceran, tidak menyatu. Para pemimpin sipil juga tidak jelas dan tidak tegas dalam reformasi sektor keamanan dalam sistem politik yang demokratis.

Dua soal besar didiskusikan dalam buku ini. Pertama, bagaimana nasib reformasi sektor keamanan, khususnya penegakan supremasi sipil atas militer, di bawah Presiden baru yang kebetulan seorang pensiunan Jenderal bintang empat. Kedua, bagaimana peluang dan kemungkinan terjadinya konflik sosial dan disintegrasi nasional di bawah kepemimpinan nasional baru.


Saturday, May 21, 2011

Book "Pemilu 2004: Transisi Demokrasi dan Kekerasan"

0 comments

Pemilu di masa Orde Baru selalu identik dengan kekerasan. Begitu banyak kekerasan yang berasal dari luar tumpah ke pemilu (efek spillover). Tak heran, setiap menjelang dan selama pemilu begitu banyak pihak yang bersiap mengamankan. Sementara rakyat di banyak wilayah, harus siap menerima kemungkinan terjadinya kekerasan. Sepertinya bangsa ini, dengan pemilu, menghadapi bencana nasional lima tahunan.

Menjadi penting untuk melihat apakah tradisi kekerasan dalam pemilu sebagaimana masa Orde Baru, bisa diputus pada Pemilu 2004 dan sesudahnya. Sehingga, dalam pemilu rakyat mendapatkan tidak hanya penguasa, tetapi juga pemimpin yang mampu menjawab tantangan jamannya.

Buku ini di desain dengan maksud memetakan berbagai masalah dalam pemilu, dari soal aturan perundangan dan implikasinya, peta kekuatan politik, potensi kekerasan, upaya pemahaman masalah untuk solusi damai. Pada akhirnya, buku ini diharapkan ikut memberi sumbangan pemikiran mengenai pentinganya menciptakan pemilu sebagai solusi damai masalah berbangsa.


Friday, May 6, 2011

Book "Agama Dalam Politik Amerika"

0 comments

Buku Agama Dalam Politik Amerika ini adalah karya akademik terbaik tentang hubungan antara agama dan politik dalam masyrakat Amerika kontemporer. Ia menguji teori teori mutakhir tentang agama dan politik, dan bersandar pada pendekatan akademik yang ketat. Karena itu buku ini telah menjadi rujukan utama para akademisi dalam studi tingkat lanjut tentang agama dan politik dalam masyarakat Amerika kontemporer.

Karya kolaborasi dari sejumlah ilmuwan terdepan di bidang agama dan politik ini membantah klaim-klaim bahwa agama tidak penting dalam politik masyarakat modern. Hasil telaah mereka mengungkapkan sebaliknya bahwa agama tetap penting dalam pembentukan perilaku dan proses politik dalam masyarakat Amerika yang dikenal relatif jauh lebih modern disbanding masyarakat kebanyakan dunia. Temuan ini menyimpang dari kesimpulan umum tentang hubungan agama dan politik di Negara-negara demokrasi maju lainnya (Eropa Barat), di mana agama terbukti tidak begitu penting. Penyimpangan ini setidaknya menunjukkan bahwa sekularisasi politik bervairasi.

Meskipun hanya berdasarkan pada kasus Amerika, proposisi-proposisi utama, dan metodologi yang digunakan dalam buku ini, sangat disarankan untuk direplikasi dan diuji secara kreatif dalam studi agama dan politik terutama di Negara-negara demokrasi baru seperti Indonesia di mana agama percaya sebagai faktor sosiologis paling penting dalam memperantarai warga dan proses politik di tingkat elite.


Sunday, May 1, 2011

Book "Il Principe" (Sang Penguasa)

0 comments

Il Principe (Sang Penguasa)Sang Penguasa adalah sebuah buku politik klasik. Ketika ditulis dalam abad XVI, Republik Florence (dimana pengarang menjadi warga negaranya) berada dalam genggaman kekuasaan negara Medici. Republik ini merupakan salah satu dari kelima negara di Italia yang terpecah-belah. Hubungan antara kelima negara begitu rapuh. Sebagai negarawan yang kaya dengan pengalaman berdiplomasi di luar negeri, Niccolo Machiavelli merindukan satu Italia yang bersatu. 

Persatuan itu dapat terwujud bila tampil seorang penguasa yang memiliki kekuasaan absolut, dan berani bertindak secara apapun demi kelestarian kekuasaannya. Wajah sang penguasa itu adalah perpaduan yang saling melengkapi antara Raja Perancis Louis XII, yang suka pembaruan tetapi tidak menyadari bahaya yang timbul akibat pembaruan itu, dengan Pangeran Cesare Borgia yang terkenal berani dan kejam dalam mempertahankan kekuasaannya, dan Paus Julius II, yang dapat menjaga kekuasaanya berkat pengaruh dan bantuan luar negeri.


Friday, April 8, 2011

Book "Pak BeYe dan Istananya"

0 comments

Presiden Republik lndonesia adalah orang paling penting atau nomor satu di negeri ini. Setidaknya, sesuai pelat nomor sedan kepresidenan: RI 1. Oleh Wisnu Nugroho, wartawan Kompas, sisi tidak penting RI 1 yang kini dijabat Susilo Bambang Yudhoyono dipaparkan dengan lugas, mengalir, dan apa adanya di blog kompasiana.

Menulis berita 'penting' RI 1 dan menyiarkannya langsung dan serentak hanya membuat berita makin seragam. Sifat 'penting' berita lstana membuat gereget 'menarik' hilang karena tak terberitakan.

Pak BeYe dan Istananya adalah buku pertama dari 'Tetralogi Sisi Lain SBY', Sebagai 'manusia biasa', Pak Beye yang punya gereget dicatat secara rinci, dibagikan secara jenaka dan kadang nakal. Karena rinci, cerita jenaka dan nakal seputar lstana tersusun runut jelas, dan bernilai sejarah. Bersiaplah tersenyum-senyum.

Wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, atas pengalamannya selama meliput SBY di/dan istana. Ditulis dengan jenaka, buku ini menghadirkan SBY yang lain dari yang selama ini dikenal orang.


Sunday, March 13, 2011

Book "Dosa-Dosa Media Amerika"

0 comments

"Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat Bukan Apa Yang Mereka Katakan, Melainkan Apa Yang Mereka Tidak Katakan"

  • PNAC (Project for a New American Century) menguasai pemerintah Amerika. Mereka memiliki banyak motif yang membuka pintu bagi terjadinya serangan 9/11.
  • Tentara AS tertawa sambil menari-nari mengelilingi tubuh warga sipil Irak yang tewas bersimbah darah. 
  • AS menahan bocah 11 tahun di penjara Abu Ghraib. Mantan komandan AS mengatakan berdasarkan investigasi umum, terjadi penganiayaan di penjara itu.
  • Para polisi Inggris yang beroperasi di Basrah menyiksa setidaknya dua orang warga sipil hingga mati dengan menggunakan bor listrik.
  • AS mengambil keuntungan dari merebaknya perdagangan opium di Afghanistan.
  • Seorang tahanan di Guantanamo pada bulan April 2003 melaporkan kepada FBI bahwa ia dipaksa berdiri telanjang di hadapan seorang interogator wanita.
  • Pentagon mengakui lima tindakan “pelecehan” Al-Quran
  • Serangkaian aksi pengeboman di Indonesia tampaknya lebih merupakan kampanye terselubung intelijen Barat dan media untuk memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara teroris. Mereka mengobarkan kemarahan kelompok-kelompok Muslim lokal dengan menyebarkan fitnah demi fitnah.
  • Virus HIV AIDS itu asal mulanya bukan dari simpanse, tapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu.
  • Fluorida yang terkandung dalam pasta gigi untuk jangka panjang membahayakan kesehatan. Tapi, selama 50 tahun lebih, pemerintah dan media AS menganjurkan fluorida sebagai sarana yang aman dan efektif untuk mencegah gigi berlubang.
  • Senjata pemusnah massal milik AS, seperti tabung uranium, jarang sekali disebutkan media Amerika, tak terkecuali dampak jangka panjangnya.
Pernahkah Anda mendengar berita atau ulasan di atas lewat CNN, Fox News, ABC, CNBC, BBC, atau media utama barat lainnya yang umumnya kemudian juga di-relay media TV lokal di negara-negara lain, termasuk di Indonesia? Tentu saja tidak! Karena mereka hanya melaporkan berita-berita yang mengharumkan nama pemerintah AS sementara kebenaran yang barangkali akan mengotori citra itu disingkirkan. Apakah ini yang disebut jurnalisme? Tentu saja bukan! Ini hanyalah manipulasi pikiran.

Lewat riset pribadi yang mendalam dan meyakinkan, Jerry D. Gray menemukan banyak fakta mengenai media televisi korporat (terutama di Amerika Serikat). Peristiwa-peristiwa dunia yang kerap kita saksikan lewat berita televisi telah dipelintir, penuh dengan kebohongan, dan tipuan. Media korporat Amerika telah mengalami pergeseran dari sarana yang melaporkan berita aktual menjadi mesin propaganda yang setia mendukung presiden dan pemerintah AS, terlepas keliru maupun benar. Bacalah, buka mata Anda, pelajarilah kesejatian media barat. Setelah itu, barulah Anda bisa melihat dunia secara jernih lewat mata Anda sendiri, bukan mata mereka.

Tentang Penulis, Jerry Duane Gray:
Jerry Duane Gray, dilahirkan 24 September 1960 di Weisbaden, Jerman. Ketika berusia 3 tahun, keluarganya migrasi ke Amerika Serikat. Mereka tinggal di perkebunan remote di Lansing Iowa. Jerry bergabung dengan US Air Force (Angkatan Udara Amerika Serikat) pada tahun 1978, tempat ia belajar memperbaiki pesawat C-130.

Pada tahun 1982, setelah menyelesaikan masa 4 tahun penerbangan bersama Angkatan Udara, Jerry bekerja di Arab Saudi menjadi mekanik pesawat pribadi Raja Fadh. Dia meninggalkan Jeddah pada tahun 1984 menuju Jakarta, Indonesia sebagai seorang master dalam instruktur selam.

Tahun 1985 Jerry memantapkan posisinya sebagai seorang instruktur selam dengan ranking tinggi di Indonesia. Jerry juga mengembangkan foto-foto bawah airnya menjadi sebuah video. Ketika mentransfer film-film untuk stasiun televisi terkenal dan menyediakan gambar-gambar untuk majalah, Jerry mengembangkan minat besarnya dalam bidang jurnalistik. Dia adalah karyawan teknis pertama di MetroTV. Selama lebih dari 2 tahun Jerry berjasa banyak dalam mengembangkan kemampuan teknis stasiun TV Berita Pertama di Indonesia itu. Ketika Indonesia sedang keluar dari krisis ekonomi dan mengalami tragedi Mei 1998, CNBC Asia menghubungi Jerry. Jerry mendokumentasikan tragedi Mei dan tetap membuat film-film lainnya mengenai Indonesia.

Saat ini, selain menjadi kontributor freelance media internasional, Jerry juga banyak menghabiskan waktunya meneliti informasi melalui berita dan internet untuk buku-buku yang telah dipersiapkannya. “Bayang-Bayang Gurita” adalah salah satu bukunya yang populer. Ketika dia tidak sibuk menulis buku, membuat film atau menyelam, Jerry lebih senang bermain dengan anaknya, Adam, di rumahnya di Jakarta sambil menikmati senda gurau dengan istri orang Indonesia tercinta, yang juga bekerja untuk sebuah stasiun televisi lokal. “


Download Buku  Jerry Duane Gray: Bayang Gurita disini

Monday, March 7, 2011

Book "Selamatkan Indonesia"

0 comments

Selamatkan ndonesia - AMien RaisKecenderungan manusia untuk mengulang sejarah yang buruk adalah penyakit yang susah ditemukan obatnya. Seperti ditulis George Bernard Shaw (1856-1950), “Sekalipun sejarah selalu berulang, manusia (Indonesia) sangat sulit untuk tidak mengulangi sejarah yang buruk.” Akibatnya, meminjam Goerge Santayana (1863-1952), manusia akan terus mengulangi pengalaman sejarah yang buruk itu. Kata-kata bijak dua filsuf tersebut dapat kita jadikan batu pijakan untuk mengaudit Indonesia dewasa ini. Betapa tidak, Indonesia kini menjadi negara yang tidak mampu menahan derasnya arus-arus kapitalisme dan neoimperialisme yang dikemas melalui isu-isu globalisasi. Kompeni-kompeni baru reinkarnasi VOC telah muncul dengan bentuk yang lebih modern. Korporasi internasional ditopang oleh tiga lembaga raksasa, yakni IMF, World Bank, dan WTO. Ketiga lembaga tersebut merupakan penopang mimpi Amerika untuk mewujudkan misi Pax Americana. Mimpi Pax Americana tak jauh berbeda dari misi kolonialisme (kapitalisme), yaitu akumulasi modal sebesar-besarnya dan penguasaan atas SDA/SDM di negara jajahan.

Melalui ketiga lembaga di atas, mereka membuat kontrak ekonomi (politik) yang membuat negara-negara dengan SDA yang melimpah, seperti Indonesia, tunduk di bawah kekuatan korporasi yang didukung kekuatan politik, ekonomi, dan militer Internasional. Fenomena mencemaskan ini dikritik oleh tokoh-tokoh penentang globalisasi seperti Stiglitz, seorang pemenang Nobel bidang ekonomi tahun 2001. Ia memandang bahwa globalisasi yang dijalankan tidak boleh menghempaskan keadilan sosial. Hal ini karena, mengguritanya korporasi global yang didukung oleh para eco-politik hit man lokal hanya menghasilkan kemiskinan dan pengangguran.

Jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75%. Sedangkan pengangguran masih membuncah sejumlah 12,6 juta jiwa. Dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 2007 lalu, Stiglitz memberikan ”warning” agar pemerintah Indonesia segera melakukan renegosiasi atas perjanjian kontrak pertambangan yang telah ditandatangani. Sebab, kontrak karya yang ditandatangani, misalnya dengan Freeport, terbukti sangat merugikan negara baik di bidang ekonomi, sosial, adat dan lingkungan hidup. Untuk itu, renegosiasi kontrak karya sangat mendesak untuk dilakukan agar rakyat tidak semakin disengsarakan, dan pemerintah tidak tunduk pada korporatokrasi yang menjadikan para pemimpin Indonesia bermental inlander.

Indonesia menjadi miskin dan sengsara karena, lagi-lagi, melupakan sejarah. Para pemimpin melupakan semangat kemandirian dan rasa percaya diri yang diajarkan Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, H. Agus Salim, Syahrir, dan para funding father-mother bangsa ini. Sungguh pemandangan yang menggelikan ketika para elite pemimpin bangsa ini merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia pada akhir 2006 lalu. Pengamanan miliaran rupiah yang diberikan kepada Bush sungguh berlebihan dan sekaligus memalukan. Tidak ada negara manapun yang menyambut Bush seperti raja, kecuali Indonesia pada kepemimpinan SBY-JK. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS (halaman 9).
Para pemimpin melupakan kemandirian dan kepercayaan diri karena lebih senang berperan sebagai Amangkurat II yang inlander. Menurut Amien Rais, seperti Amangkurat II, salah satu ciri bangsa inlander adalah ia dihinggapi suatu perasaan nikmat dalam ketergantungan dan tunduk kepada perintah sang tuan. Akibatnya, sampai sekarang kita masih dihinggapi penyakit debt-addict, kecanduan utang. Setiap kali mendapat utang baru dari IGGI (Inter-Govermental Group on Indonesia), para pemimpin kita merasa bangga, ”Kita bersyukur dan bangga sebagai bangsa Indonesia, karena kita masih dipercaya oleh IGGI untuk mengambil utang baru,” katanya. Alhasil, Indonesia menjadi terjebak dalam jeratan utang luar negeri yang makin membesar.

Seperti ditulis John Perkins, bangsa yang tertindih utang besar, mau tidak mau pasti kehilangan bukan saja kemandirian ekonomi, tetapi juga kemandirian politik yang menjadikan bangsa itu tersandera selama hidupnya. Mentalitas inlander juga nampak jelas dalam pengelolaan kekayaan alam, baik migas maupun nonmigas. Freeport di Papua, sejak 1967 menambang emas, perak, dan tembaga di provinsi Indonesia paling timur yang kaya raya dengan sumber daya alam itu. Kontrak Karya I diperbarui pada 1991 untuk masa setengah abad, sehingga Kontrak Karya II baru berakhir pada 2041. Indonesia benar-benar akan hancur apabila tidak diselamatkan.

Buku ini berulang kali mengingatkan penguasa kita akan bahaya korporasi Amerika yang selalu berkaitan erat dengan beberapa kejahatan sekaligus (halaman 161-163). Pertama, kejahatan lingkungan. Buangan limbah (tailings) yang berjumlah 300 ribu ton per hari telah merusak sistem sungai Aghawagon-Otomona-Ajkwa dan beserta ekosistemnya. Kedua, Freeport juga melakukan kejahatan perpajakan alias tidak membayar pajak. Ketiga, kejahatan etika dan moral. Freeport memberi uang sogokan kepada oknum-oknum polisi dan militer dengan dalih administrative costs, security cost, dan lain-lain. Keempat, kejahatan kemanusiaan. Tujuh suku Papua yang punya hak ulayat digusur dari tanah warisan turun-temurun dan di antara mereka meninggal karena peluru satgas Freeport. Kelima, kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia.

Tetapi, pikiran jernih hanya dapat dilakukan oleh bangsa dengan pemimpin yang bermental merdeka, berdaulat dan mandiri. Bagi Amien Rais, bangsa yang belum sembuh dari kolonisasi mental dan lebih nyaman menghamba pada korporatokrasi internasional, tentu memilih yang mudah (halaman 56). Kita sudah merdeka hampir 63 tahun dengan barisan intelektual, geolog, teknisi, dan profesional yang menguasai managerial know how buat pertambangan modern, tapi mereka dipinggirkan dan dilupakan. Pemerintah kita ternyata tidak punya nyali berhadapan dengan administrasi Bush yang ekspansif, agresif dan eksploitatif. Selain itu, masih banyak lagi masalah lain yang tidak kunjung diselesaikan pemerintah, di antaranya yaitu asingisasi penerbangan, perkebunan, perbankan, pertelekomunikasian, pelayaran dan semua proses yang menyebabkan Indonesia menjadi negara komprador, negara pelayan kepentingan asing. Belum lagi soal pencurian pasir oleh Singapura serta sikap Malaysia yang suka meremehkan.

Buku ini juga mencatat sepuluh hal penting yang memprihatinkan yang terjadi dalam tubuh pemerintahan SBY-JK. Sepuluh hal tersebut mengindikasikan broken goverment pada tubuh pemerintahan saat ini. Oleh karena itu, penulis memberikan gagasan untuk menyelamatkan bangsa dari kondisi yang semakin terpuruk. Pertama, secepatnya perlu ada pemimpin alternatif yang bebas dan independen, berwawasan nasional dan internasional, serta diisi oleh kaum muda. Atau dengan kata lain, ”Saatnya Kaum Muda Memimpin Indonesia.” Kedua, pemerintah sudah seharusnya berani bertindak untuk melepaskan diri dari kekuatan korporasi asing dan membangun hubungan dengan negara-negara lainnya sebagai partner, bukan sebagai budak. Hanya dengan cara itulah, Indonesia Raya tercinta dapat diselamatkan. Indonesia Bisa!.


Saturday, March 5, 2011

Book "Neo Liberalisme Mencengkeram Indonesia"

0 comments

Buku ini mengulas tentang kebijakan-kebijakan ekonomi dua pemerintahan terakhir, Megawati Soekarno Putri dan SBY yang sangat pro pasar. Ditulis oleh aktivis yang banyak terlibat dalam riset kebijakan ekonomi.

Ulasannya mengenai kondisi makro ekonomi; PDB, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, ketenaga kerjaan, moneter dan keuangan, neraca pembayaran cukup kritis. Ia memotret indikator-indikator itu, menggunakan data statistik pemerintah untuk mengkritisinya dengan telanjang.

Tidak selesai disitu, buku ini juga mengupas mengenai negosiasi dan kontrak-kontrak karya yang sangat merugikan kepentingan nasional. Kondisi kemiskinan yang semakin menggenaskan. Juga menguliti tentang manifestasi tangan-tangan neoliberal di Indonesia dalam bekerja misalnya; liberalisasi keuangan lewat kurs bebas, devisa bebas, dan pengembangan BEJ; liberalisasi perdagangan, ratifikasi keputusan WTO-Washintong Konsensus; pengetatan prioritas APBN, pencabutan subsidi, dll; privatisasi BUMN; penjualan korporasi domestik kepada modal internasional; Haki; harga pasar bagi energi; mekanisme harga pasar bagi tenaga kerja; Bank indonesia mengikuti bassel.


Friday, February 4, 2011

Book "The Year of Living Dangerously"

0 comments

Di sini … di kota asing yang temaram bernama Jakarta ini, tempat campuran kebencian dan bahaya senantiasa terendus, seperti bau rokok kretek, terjebak Guy Hamilton, seorang jurnalis Barat, Billy Kwan, juru kameranya yang berkebangsaan Cina-Australia bertubuh kate, dan Jill Bryant, perempuan asal Inggris yang sama-sama mereka cintai.


Tahun 1965, sebuah masa yang dikenal sebagai “Vivere Pericoloso - Hidup Penuh Bahaya”, yang membelokkan arah hidup bangsa Indonesia.. Pemerintahan nasionalistik Sukarno membawa Indonesia ke tengah ketidakpastian. Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang lemah, Presiden menghabiskan uang untuk membangun monumen-monumen megah, sementara menyulut api kebencian terhadap Barat dan mengobarkan semangat konfrontasi dengan Malaysia: Ganyang Malaysia!

Sementara itu, di sebuah sudut Hotel Indonesia bernama Bar Wayang yang sejuk dan nyaman, sekelompok pemburu berita dari negara-negara yang disebut imperialis oleh Sukarno saling bertukar cerita. Mereka juga berbagi pendapat tentang kondisi Indonesia terkini saat itu. Bisa dibilang nasib mereka di Indonesia secara tak langsung berada di tangan Sukarno yang sering mereka gunjingkan di Wayang.

Inilah sebuah drama penuh liku tentang kesetiaan dan pengkhianatan. Selain itu, novel ini membeberkan berbagai peristiwa politik sepanjang tahun penuh pergolakan sampai akhirnya Sukarno digulingkan oleh Suharto setelah Gerakan 30 September PKI.


Saturday, January 29, 2011

Book "Hamas - Ikon Perjuangan Islam Terhadap Zionis Israel"

0 comments

Hamas adalah ikon utama perjuangan rakyat Palestina dan umat Islam melawan kezaliman Israel. Meski Israel membombardir Jalur Gaza dan membinasakan ribuan warga sipil Palestina, Hamas tidak pernah sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Bahkan, dukungan Amerika Serikat terhadap agresi Israel di Jalur Gaza melalui forum Dewan Keamanan PBB tidak mampu meredam semangat Hamas untuk mengulang kejayaan Hizbullah ketika menghadapi agresi Israel di Lebanon pada pertengahan 2006.

Agresi militer Israel di Jalur Gaza telah meningkatkan popularitas Hamas di tingkat dunia internasional. Hamas kini tidak hanya milik kaum Muslim Palestina, tetapi seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru dunia. Bahkan, Hamas mendapat tempat di hati setiap orang yang merindukan perdamaian sejati di Timur Tengah. Dunia kini menyadari bahwa tuduhan teroris yang dipropagandakan Amerika Serikat dan Israel hanyalah taktik usang untuk menafikan eksistensi Hamas dalam proses perdamaian Timur Tengah. Hamas telah menjelma menjadi ikon perlawanan terhadap

Siapakah sesungguhnya Hamas? Apa keistimewaan gerakan ini jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan perlawanan Palestina lainnya? Seberapa besar peranan Hamas dalam perjuangan kaum Muslim Palestina hingga Israel merasa perlu mengerahkan seluruh kekuatan militer untuk menghancurkannya?

Buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui sebuah kajian yang komprehensif tentang kiprah politik Hamas selama ini. Pembaca akan memeroleh pemahaman yang lebih mendalam dan rasional mengenai posisi Hamas dalam pusaran konflik Palestina-Israel. 

Buku ini mengungkap:
- Sejarah dan latar belakang pendirian Hamas
- Rahasia keberhasilan Hamas merebut hati rakyat Palestina
- Sebab-sebab kemenangan Hamas dalam Pemilu Palestin
- Konspirasi Israel dan Barat untuk menghancurkan Hamas

Tuesday, January 11, 2011

Book "Obama Tentang Israel, Islam dan Amerika"

0 comments

Bagaimana pandangan politik Obama tentang Islam, Israel, dan Amerika? Demikian barangkali pertanyaan yang ingin dijawab oleh buku berjudul Obama Tentang Israel, Islam, dan Amerika ini.

Buku kumpulan tulisan tim penerbit Hikmah, berusaha menghadirkan perspektif berbeda mengenai sosok kandidat presiden Amerika, terutama menyangkut pandangan dan pemikirannya terhadap tiga isu sensitif, yaitu Islam, Israel, dan masa depan Amerika.

Bukan tanpa alasan pertanyaan ketiga isu ini menjadi penting diketahui. Hal ini dimungkinkan karena, selain Barack Obama dikenal sebagai sosok yang b berkarakter pluralis-liberal, juga ketiga isu itu masih menjadi persoalan yang sangat krusial untuk dicarikan penyelesaiannya. Kesan Islam sebagai agama teroris serta Israel dan Amerika yang biadab?

Mengawali tulisannya, buku yang terdiri tiga bagian ini mengulas profil Obama sebagai seorang politisi yang tumbuh dan besar dari latar belakang keluarga yang beragam, yaitu seorang bapak kulit hitam beragama Islam dan ibu kulit putih beragama Kristen. Dan sempat tinggal di Indonesia.

Bagian kedua, mengulas tentang persentuhan politisi Ilionis ini dengan tema seperti teka-teki keislamannya, Yahudi Israel, dan babak baru demokrasi Amerika. Bagian ketiga, lebih semacam konfirmasi dari Obama menyangkut pernyataan-pernyataan orang lain tentang dirinya.

Membangun Keterbukaan
Lahir dari perpaduan orangtua muslim-kristen, kulit hitam dan putih, serta pengalaman tinggal di Indonesia, membuat Obama tampil sebagai figur yang plural lagi terbuka akan perbedaan.

Meski memilih sebagai seorang Kristen, pandangan-pandangan keagamannya sangat terbuka bagi agama lain. Baginya keberagamaan lebih sebagai rumusan sikap “rasional” mengenai realitas dibanding sebagai sebuah rumusan perintah “suci” yang mengikat (h.42). Pernyataan ini jelas memperlihatkan sikap plural Obama dalam memandang agama, tidak terkecuali terhadap Islam. Islam bukan agama teroris.

Pandangan ini pun memungkinkan menjadi legitimasi bagi ikhtiar bersama dalam membangun hubungan antara agama-agama Semitik (Islam, Kristen, Yahudi) yang lebih harmonis. Mengapa? Karena setiap agama lebih dipahami sebagai kenyakinan universal yang memungkinkan satu dengan lainnya saling bertemu dan saling menguatkan. Model pandangan ini seakan ingin meletakan bahwa semua agama yang diakui di Amerika memiliki potensi besar untuk membangun negeri ini, khususnya, dan dunia umumnya.

Corak pandangan ini pula yang tampaknya ingin diperlihatkan Obama ketika melihat konflik hubungan Isreal-Palestina. Pada satu sisi ia seorang jemaat United Church of Christ yang anti Israel, dan di sisi yang lain, dalam beberapa pidato politiknya, mendukung status kenegaraan Israel. “Israel adalah sekutu kita yang terkuat dan negara paling demokratis di kawasan Timur Tengah. Dan Kita harus berkomitmen penuh untuk membiayai militer Israel.” (h.76).

Terlepas dari paradoks itu, tampaknya pilihan sikap Obama itu memungkinkan munculnya tudingan yang bias kepentingan politis. Artinya sikapnya yang pluralis-liberal itu menjadikannya seakan berada di posisi abu-abu, tidak tegas: apakah anti-Israel atau pro-Israel. Dan ini pun mungkin dapat dibaca dimana Obama menyadari sikap terbukanya terhadap Islam, Israel, dan citra politik internasional sangat menentukan kesuksesan karir politiknya.

Kenyataan ini pun seakan menegaskan jargon kampanyenya “perubahan”. Dan cita-cita itu semua berusaha ingin diwujudkannya menuju Amerika yang baru. Politisi yang sering disebut-sebut sebagai Rising Star ini setidaknya menjadi tumpuan harapan bagi terwujudnya negara demokratis yang sejati, yang benar-benar menghargai kemerdekaan dan kedaulatan negara lain.

Membaca buku ini seperti menyaksikan sosok seorang yang mampu memberikan harapan baru bagi cita-cita perubahan tatanan dunia yang lebih baik. Karena walau bagaimanapun tidak dapat dimungkiri bahwa hubungan negara-negara di dunia dewasa ini masih sering dibayang-bayangi oleh phobia, ketakutan-ketakutan pada sesuatu. Di samping itu, masih belum pupusnya kenyataan konflik Israel-Palestina.

Lebih jauh lagi, buku ini seakan menjadi cermin bagi para politisi kita di tanah air. Cermin seorang politisi muda yang handal dan modal intelektual, bukan hanya modal politik uang dan jual tampang. Semoga saja para politisi kita bisa mengambil contoh!


Sunday, October 24, 2010

Book "Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia"

0 comments

Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia dari Ishak Rafick

Yang akan Anda baca ini memang bukan sesuatu yang manis. Buku ini juga tentu tidak ditujukan untuk menyenangkan setiap orang seperti cerita pengantar tidur. Di dalamnya, memuat rekaman hitam bersejarah yang boleh jadi belum pernah terungkap di media.

Ini adalah hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun. Catatan yang tajam dan paling komprehensif yang membedah kegagalan demi kegagalan presiden kita dalam membawa Indonesia tinggal landas.

Satu hal yang pasti, ada solusi dan pencerahan yang ditawarkan sang penulis kepada kita dengan cara memberi gambaran apa adanya tentang tanah air tercinta. Setidaknya agar muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikannya.

Download Buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia

Tuesday, October 5, 2010

Book "Di Bawah Lentera Merah"

0 comments

Di Bawah Lentera Merah menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an.

Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menangah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.

Pertimbangan lain mengapa Di Bawah Lentera Merah menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisionalis lokal tahun 1917-an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini.


Friday, June 25, 2010

Book "Asian Godfathers"

0 comments

Perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hongkong, dan Filipina dikendalikan oleh segelintir konglomerat.Mereka sikenal sebagai godfather Asia. Pada 199-an, mereka termasuk delapan dari 25 orag terkaya di dunia. Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka bisa seperkasa itu ?

Nama mereka tak asing di telinga public, namun sosok mereka misteriud dan penuh selubung mitos. Sebut saja, Li Ka-shing, sang miliuner hongkong; Stanley Ho, Bandar kasino di macau, Lim Goh Tong, pemilik genting Highland Resort di Malaysia, Lucio Tan, miliuner tembakau asal Filipina. atau para konglomerat Indonesia, dari Liem sioe Liong, Eka Tjipta Widjaya, Aburizal Bakrie, hingga Tommy Winata.

Berpengalaman sebagai reporter selama belasan tahun di kawasan asia,Joe Studwell melukiskan secara detail potret diri dan lakon bisnis para godfather : keberanian, kekejaman, kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun kongsi dan quanxi, serta komitmen dan penghianatan terhadap politisi, preman, juga triad dan sindikat.

Istilah godfather pertama kali diperkenalkan oleh Mario Puzo dalam novelnya,The Godfather,yang berkisah tentang seorang tokoh Vito Corleone. 

Tokoh ini sangat dihormati, dicintai, sekaligus ditakuti dan dibenci oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski sebagai mafia penguasa New York, Vito dari Sisilia-Italia ini menolak tradisi balas dendam. Kenyataan seperti itu tentu tidak lazim dilakukan dalam dunia mafia yang identik dengan aksi barbarisme, anarkisme, dan brutalisme terhadap kelompok di luar mereka.

Berbeda dengan buku The Godfather karya Mario Puzo, buku Asian Godfathers karya Joe Studwell lebih menggambarkan tradisitradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia dari dulu hingga kini.

Karya ini bermaksud menunjukkan pada pembaca bahwa ada mitologi lain yang tumbuh di antara para taipan-taipan Asia, yang besar dan tak tersentuh. Dalam buku ini, Studwell tidak menilai keseluruhan taipan Asia (godfather) sebagai spesies yang benar-benar berhati dengki dan terlibat dalam sejumlah kejahatan terorganisasi meski kenyataannya ada sebagian dari mereka terlibat kejahatan terorganisasi tersebut.

Karena itulah, para taipan Asia ini sulit dijangkau dan diverifikasi. Bila kita perhatikan lebih mendalam, seluruh rangkaian legenda yang terjadi di Asia, khususnya kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina mengandung sejumlah submitos tentang ras, budaya, genetika, entrepreneuralisme, dan keseluruhan dasar dari kemajuan ekonomi kawasan ini sejak akhir kolonialisme.

Maka, dalam pengertian seperti inilah, buku Asian Godfathers merupakan kebalikan dari The Godfather karya Mario Puzo. Dalam sejarah Asia Tenggara, seluruh perekonomian di kawasan ini sepenuhnya dikendalikan oleh segelintir konglomerat atau taipan. Umumnya mereka itu dikenal sebagai godfather Asia.

Menurut Studwell, pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Sebut saja misalnya Li Ka-shing, sang miliuner Hong Kong; Stanley Ho, bandar kasino di Macau; Lim Goh Tong, pemilik Genting Highland Resort yang sangat besar di Malaysia; Lucio Tan, miliuner tembakau di Filipina; atau para konglomerat Indonesia, dari Achmad Bakrie, Haji Kalla, Eka Tjipta Widjaya, hingga Tommy Winata. 

Dalam buku ini,Studwell memberi analisa yang menarik tentang awal kemunculan para godfather Asia. Menurutnya, lanskap ekonomi kontemporer Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong dibentuk oleh interaksi antara dua kekuatan sejarah, yaitu migrasi dan kolonialisme. 

Kehadiran kaum imigran ke daerah-daerah Asia ini, seperti India, China, dan Arab, mendahului kaum kolonial Eropa. Mereka datang ke kawasan Asia tidak saja melibatkan diri dalam urusan perdagangan, tapi juga dalam kegiatan- kegiatan lainnya. Di Thailand, sejak abad ke-16 kaum imigran dipekerjakan dalam berbagai pekerjaan yang disetujui oleh pengadilan. 

Orang-orang Persia dan China mengoperasikan monopoli- monopoli perdagangan dan jasa pengumpulan pajak. Hingga abad ke-18, orang-orang China tercatat bekerja untuk pengadilan Thailand sebagai administrator dan akuntan. Fenomena ini juga tak jauh berbeda terjadi di Pulau Jawa di Indonesia.

Tercatat dengan jelas bahwa para pengusaha China memasuki manajemen administratif dan pengelolaan monopoli bersama kaum aristokrat Jawa sebelum kedatangan orang-orang Eropa pada abad ke-16. Sementara itu, kedatangan kaum kolonial Eropa,yang muncul pada abad ke-16, namun tidak ekspansionis secara agresif hingga abad ke-19,memperkuat kecenderungan yang sudah tampak.

Kaum kolonial berusaha berkuasa melalui elite-elite yang ada, baik secara politik maupun ekonomi. Mereka merepresentasikan diri sebagai penguasa tertinggi sehingga para pemimpin politik dan ekonomi lokal mau tidak mau membutuhkan mereka dan begitu pula sebaliknya. Bagi para imigran yang ambisius, baik dari China, Arab, dan Persia,kehadiran orang Eropa merupakan momentum tepat untuk mengakulturasi diri mereka dengan para penguasa baru itu yang merepresentasikan diri sebagai kekuatan dominan.

Di Indonesia, para taipan China mendapat perlakuan yang istimewa dari Belanda sehingga lama kelamaan orang China menjadi godfather di negeri ini. Perlu diketahui, terutama di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bahwa perkembangan ekonominya merupakan produk dari kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang di era kolonial dengan setumpuk karakter yang berbeda pascakolonial. 

Dalam hubungan ini, elite politik memberikan kepada elite ekonomi konsesikonsesi monopoli ekonomi. Para taipan di setiap kawasan Asia Tenggara, secara keseluruhan cenderung melayani kepentingan politik dan para elitenya. Mereka—godfatehr—mendapatkan kekayaan personal yang besar dari hubungan itu,namun mereka tidak banyak memberikan kemajuan ekonomi secara keseluruhan. 

Maka, pada titik inilah, kawasan Asia Tenggara memiliki kelemahan besar dalam pembangunan politik dan institusional, yang membuat kawasan ini mengalami kehancuran yang sangat akut. Sebagian besar dari problem itu belum bisa teratasi dalam satu dekade sejak krisis melanda seluruh kawasan itu.


Komentar mereka mengenai buku Asian Godfathers ini:
“Beragam sisi kehiduapn konglomerat yang kebanyakan berdarah China serta asal-muasal kekayaannya dijabarkan dengan sangat rinci.”
Kompas

“Joe Studwell juga mengungkapkan bagaimana seorang individu mulai melebarkan jejaringnya untuk menjadi godfather…. Joe tak hanya menyebut para cukong dari etnis China, tetapi juga godfather asli Indonesia, seperti Aburizal Bakrie atau keluarga kalla.”
Republika

“Buku ini benar-benar …menggambarkan tradisi paternalisme, kekuatan lelaki, superioritas dan aura mistis para cukung Asia.”
Sara Webb, Reuters

"Para godfather... benar-benar seperti parasit. Mereka memperoleh monopoli akses yang menguntungkan melalui guanxi beserta kroni-kroni politiknya."
John D. Van Fleet, Shanghai

"Reportase yang utuh dengan kepekaan sejarah menyangkut orang-orang hebat di balik perekonomian Asia." 
Jeff Andrew, pengamat Asia


Tuesday, March 16, 2010

Book "Dalih Pembunuhan Massal"

0 comments


Inilah misteri sejarah yang paling dinamik yang diulik banyak orang sampai kini: Gerakan 30 September (G 30 S). Sebab ia tak semata persoalan “kup” politik, melainkan juga berkait peristiwa sesudahnya: pembunuhan massal dan asasinasi total atas seluruh gerakan kiri di Indonesia. Dalam hal ini PKI dan seluruh aliansinya, termasuk pendukung setia Sukarno.

Buku yang disusun John Rossa ini mesti kita beri rak terhormat dalam tumpukan kepustakaan G 30 S. Ia tak saja menumbangkan banyak analisis sebelumnya yang selalu mencari siapa dalang sesungguhnya dari peristiwa G 30 S itu (PKI, Sukarno, Angkatan Darat, Suharto, CIA); tapi ia menjalin kembali cerita baru yang segar dari serakan data yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak, buku yang disusun laiknya roman detektif ini berkesimpulan: G 30 S adalah gerakan militer paling ngawur dan iseng, klandestin setengah hati, dan sama sekali tak direncanakan secara matang. Tapi akibat yang ditimbulkannya luar biasa parah. Ia dijadikan kelompok “militer kanan” sebagai dalih pembantaian massal yang sungguh tak terperikan.

Bagi sejarawan University of British Columbia, Vancouver, Kanada, ini, tak ada dalang utama yang mengerjakan proyek mengerikan ini. Yang ada ialah siapa yang paling diuntungkan setelah kejadian ini, ketika pada 1965 konfigurasi kekuatan politik tinggal dua kutub: PKI dan Angkatan Darat di mana bandulnya ada pada Presiden Sukarno.

Gerak pertama yang coba dilakukan Rossa adalah mempertanyakan seluruh analisis dan kesimpulan dari buku-buku yang sudah ada. Dengan gaya laiknya pakar forensik, ia membedah kembali dokumen Jenderal Pardjo yang disebut Rossa “sumber utama paling kaya serta paling bisa dipercaya”, selain karena ia memang tokoh inti dalam G 30 S. Hasilnya bahwa gerakan putsch ini dipimpin Sjam. Sekaligus ini menggugurkan pendapat Benedict Anderson dan Harold Crouch yang berpendapat bahwa perwira-perwira militer yang berperan penting (Untung, Latief, Soejono, Soepardjo).

Dengan petunjuk itu, Rossa mengejar identitas Kamaruzaman (Sjam) dan menemukan bahwa orang ini bawahan setia Aidit selama 15 tahun—yang sekaligus kesimpulan ini menampik spekulasi Wertheim dalam Indonesia’s Hidden History bahwa Sjam adalah intel militer yang ditanam di tubuh PKI. Sjam adalah orang Biro Chusus yang dibentuk Aidit di luar ketentuan Konstitusi Partai. Tugasnya untuk mendekati militer dan bertanggung jawab semata kepada Aidit. Jadi wajar kemudian anggota Politbiro dan Comite Central tak mengetahui secara detail kerja-kerja klandestin Biro Chusus ini.

Jika pun PKI ini terlibat, tulis Rossa, dua orang inilah yang mesti bertanggung jawab. Rossa percaya pada kesimpulan Iskandar Subekti—panitera dan arsiparis Politbiro—bahwa G 30 S bukan buatan PKI, dalam hal ini yang memikirkan, merencanakan, dan memutuskan. Sebab jika ia merupakan gerakan dari PKI, atau gerakan yang “didalangi” PKI, mestinya ia dibicarakan dan diputuskan badan pimpinan partai tertinggi, yaitu Central Comite dengan jumlah anggota 85 orang, dan hal ini tak pernah dilakukan sama sekali. Gerakan ini hanya diketahui beberapa gelintir orang dalam partai yang disebut Sukarno sebagai “oknum-oknum PKI yang keblinger”.

Jika Aidit melakukan gerakan “mendahului” atas musuh utamanya (Angkatan Darat) itu, apa alasannya? Aidit sangat insyaf bahwa partainya akan habis jika berhadapan muka-muka dengan Angkatan Darat lantaran nyaris mutlak anggotanya tak bersenjata. Jalan klandestin yang diambilnya dengan bekerja sama dengan perwira-perwira dalam tubuh Angkatan Darat sendiri dimaksudkan untuk menyelamatkan warga partai dari amukan bedil tentara.

Lagi pula Aidit mulai gelisah, bagaimana partai yang kian hari kian membesar ini tak menemukan arena bermain yang demokratis, yakni Pemilu. Sukarno pun tak menunjukan tanda-tanda akan menyelenggarakan pesta demokrasi lagi setelah sebelumnya yang direncanakan dilangsungkan pada 1959 dilucuti Angkatan Darat pimpinan Nasution yang “memaksa” Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli.

Dalam hitungan PKI, jika Pemilu dibuka pastilah mereka akan keluar sebagai juara. Sementara pimpinan teras Angkatan Darat dan sekutu Amerikanya ketar-ketir melihat kerumunan besar semut-semut merah itu di jalanan. Tapi mereka tak berani melakukan tindakan mendahului karena berdasarkan pengalaman, semua tindakan mendahului akan kalah, seperti kudeta gagal Nasution pada 17 Oktober 1952.

Tapi rencana ini menyelimpang. Operasi G 30 S itu dilakukan dengan tergesa-gesa. Digerakkan secara militer memang, tapi dengan cara ngawur. Sebagai seorang militer berdisiplin, Supardjo, misalnya, 3 hari sebelum operasi, berkali-kali menanyakan bagaimana kesiapan pasukan dari Jawa Barat, tapi selalu dijawab Sjam dengan murka dan mencerca para pembimbang sebagai pengecut.

Pada hari “H” kesalahan terjadi beruntun. Pasukan yang menculik Nasution salah masuk rumah dan salah tangkap, karena mereka tak mengadakan “gladiresik” sebelumnya. Pasukan yang didatangkan dari Jawa Tengah dan ditugaskan “mengamankan” Istana di Monas akhirnya bergabung kembali dengan Kostrad lantaran perut keroncongan karena perempuan-perempuan yang ditugasi membuka dapur umum tak datang.

Pembunuhan seluruh jenderal pun di luar skenario. Mestinya adalah: “Tangkap. Jangan sampai ada yang lolos”. Tapi betapa kagetnya Omar Dani setelah tahu bahwa jenderal dibunuh atas komando langsung dari Sjam. Saat itu Dani langsung berfirasat akan terjadi malapetaka besar. Disusul lagi ketaksetujuan Sukarno atas gerakan ini yang membikin kalap penggeraknya. Sementara janji Sjam bahwa G 30 S disokong jutaan massa PKI yang akan turun ke jalan-jalan tak pernah ada karena memang cuma hayalan Sjam. Karena memang jutaan anggota PKI itu tak mendapatkan informasi yang jelas soal putsch itu.

Dan inilah yang ditunggu-tunggu Angkatan Darat yang dibantu oleh CIA Amerika, biarkan lawan mendahului untuk menjadi dalih bumi-hangus. Di titimangsa ini Rossa tetap kukuh membantah spekulasi bahwa bahwa Angkatan Darat dan Amerika yang menjadi pengendali utama peristiwa ini. Termasuk spekulasi naif yang mengatakan Suharto adalah otaknya.
Gerakan ini tetap berasal dari Aidit, Biro Chusus, dan sekelompok perwira dan dirancang untuk berhasil. Ia gagal bukan karena dirancang untuk gagal, tapi karena diorganisasi dengan cara sangat buruk; sementara Angkatan Darat sudah mempersiapkan pukulan balik jauh sebelumnya. Mereka dilatih, dipersenjatai, dan didanai oleh Dewan Keamanan Nasional (NSC, National Security Council) Amerika Serikat sejak 1957.

Peristiwa putsch ini hanya dijadikan dalih Angkatan Darat untuk menghancurkan seluruh gerakan kiri di Indonesia. Karena PKI lah yang jadi batu sandung terkuat menghalangi perwira-perwira seperti Nasution yang—meminjam ungkapan politikus veteran Sjahrir—memendam “cita-cita militeristik dan fasis” untuk pemerintahan Indonesia. Kekuatan kiri ini juga yang jadi batu sandung berkuasanya modal asing Amerika.

Karena itu, Rossa menegaskan, bahwa sebetulnya Suharto tak peduli siapa organisator G 30 S ini karena memang tak penting. Mahmilub yang dia dirikan juga bukan untuk mencari kebenaran, tapi manipulasi dan prasyarat formal belaka.

Momentum ini sudah ditunggu lama untuk menghantam PKI dan memakzulkan Sukarno. Maka langsung saja Suharto menyerang PKI secara menyeluruh setelah 4 hari kejadian, sambil pura-pura melindungi Sukarno yang sampai wafatnya tak sepatah kata pun menyebut PKI sebagai pengkhianat untuk peristiwa dengan skala kecil seperti G 30 S ini.

Angkatan Darat melancarkan gaya “black letter (surat kaleng)” dan “operasi media”. Pelbagai bukti direkayasa untuk memperlihatkan kebencian atas orang-orang PKI, seperti kemaluan para jenderal disilet-silet Gerwani. Dengan agregasi dan modal kampanye hitam itu pasukan elite Angkatan Darat (Kostrad) kemudian terjun ke daerah-daerah dan memompa hasrat warga sipil untuk buas membunuh sesamanya.

Buku ini dengan terang membantu membaca silang-sengkarut interpretasi sekaligus membongkar hayat-sadar kita akan pengeramatan peristiwa yang relatif kecil (G 30 S) di mana justru menghapus ingatan akan peristiwa yang luar biasa jahatnya setelahnya, yakni pembunuhan massal yang tak terperikan.


Sunday, January 3, 2010

Book "Membongkar Gurita Cikeas"

0 comments

Buku yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas, karangan George Junus Aditjondro telah membuat risau penguasa saat ini. Kerisauan itu muncul saat data yang disampaikan sangat sensitif mengungkap 'fakta' demi fakta berkaitan dengan keterlibatan penguasa dalam kasus korupsi dan berbagai skandal lain. Salah satunya adalah kasus bank Century yang telah mencatut dua nama orang penting di kabinet 'para bedebah'. Berikut ulasan lengkapnya:

Walau tidak tebal, namun buku “Membongkar Gurita Cikeas” banyak berisi data-data yang sangat sensitif dan tentu saja kontroversial, karena selama ini ditutup-tutupi tangan kekuasaan. Salah satunya adalah orang-orang yang berada di belakang berbagai yayasan yang melibatkan keluarga Yudhoyono dan teman-teman dekatnya.

George Junus Aditjondro kembali menyulut istana. Guru Besar Sosiology Korupsi New Castle University Australia yang pernah ‘menelanjangi’ KKN antara Presiden Suharto dengan Habibie lewat buku “Dari Soeharto ke Habibie : guru kencing berdiri, murid kencing berlari : kedua puncak korupsi, kolusi, dan nepotisme rezim Orde Baru” (Pijar Indonesia, 1998), dan “Korupsi Kepresidenan Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa” (Mei, 2006) ini kembali membetot perhatian banyak orang, dari tukang becak hingga RI-1.

Bertempat di kota perjuangan Yogyakarta, George Junus Aditjondro pada Rabu (23/12) meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Kasus Bank Century”. Buku dengan cover seekor gurita dengan “Mahkota Raja Jawa” itu isinya dengan sangat berani membongkar KKN yang berada di sekeliling Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejak dari Pemilu dan Pilpres 2009 hingga kasus Bank Century.

Namun baru tiga hari diedarkan jaringan Gramedia, pada hari Sabtu (2612), buku tersebut sudah tidak ada lagi di pasaran. Bukan karena habis dibeli, tetapi diduga karena adanya desakan dari kekuasaan. Sejak itu sampai sekarang, buku tersebut menjadi bahan bola panas yang menggelinding di sisi bola panas yang lain yang bernama Kasus Bank Century, sebuah bank gagal yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI. Keduanya memang menggelinding dengan cepat dan mengarah ke sasaran yang sama: Penguasa republik ini.

Sejumlah tokoh nasional yang berhasil mendapatkan buku ini mengaku surprise dengan data-data dan paparan buku tersebut yang sangat gamblang, menukik, dan amat jujur jika tidak dikatakan sebagai naif. Mantan Ketua MPR Amien Rais yang mengaku telah melahap habis buku yang tebalnya tidak sampai duaratus halaman tersebut menyatakan jika buku tersebut memang banyak memuat hal yang sensitif bagi kelompok yang tengah duduk di singgasana kursi kekuasaan saat ini. Namun dirinya menolak keras jika buku tersebut harus dilarang. Pendapat serupa juga datang dari beberapa tokoh nasional di antaranya Ketua Gerakan Indonesia Bangkit Addhie M. Massardi, ekonom Rizal Ramli, dan tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, sikap Istana sangat reaksioner. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat juru bicara kepresidenannya, Julian Aldrin Pasha di Cikeas, kemarin (26/12) menegaskan jika buku tersebut telah mengungkapkan data-data dan fakta yang tidak akurat. Buku itu, demikian Julian, telah dirilis dan dipublikasikan ke publik. “Maka yang akan diminta adalah pertanggungjawaban, sejauh mana keotentikan validitas data dan hingga metodologi yang digunakan,” ujarnya. Menkumham Patrialis Akbar sendiri telah menyatakan pihaknya tengah mempelajari kasus ini dan tidak tertutup kemungkinan akan membawa kasus ini ke penuntutan hukum.

George Junus Aditjondro sendiri menyatakan sangat siap bila harus menghadapi upaya hukum dari kubu istana. Namun dia mengingatkan agar sebuah karya ilmiah semestinyalah harus dijawab dan ditanggapi secara ilmiah juga, dengan mengeluarkan karya ilmiah atau buku juga, bukan lewat jalur represif seperti halnya jalur kepolisian.

“Sebuah karya ilmiah hendaknya harus dijawab dengan karya ilmiah, ngapain dengan gugatan hukum. Kalau tidak betul, tulis buku bagaimana Demokrat dan SBY bisa menang dalam Pemilu dan bagaimana penggalangan dananya,” tegas George yang mukim di Yogyakarta. “Jika merasa tudingan (saya) tidak benar, silakan tulis buku. Tapi kalau mau menggugat di pengadilan, silakan saja. Kok seperti zaman orde baru saja,” ujarnya lagi.

George juga mengungkapkan jika dirinya sangat siap berdebat dengan SBY untuk membedah data-data yang ada di buku tersebut. Namun syaratnya, bukunya harus beredar luas terlebih dulu ke tengah masyarakat sehingga masyarakat bisa membaca, mengetahui, dan menganalisa isinya. “Cara cepatnya untuk membuktikan ilmiah tidaknya buku ini, saya siap berdebat dengan SBY. Saya doktor, SBY juga doktor. Kalau melalui pengadilan, bertele-tele waktunya,” lanjutnya.

Salah satu yayasan yang disorot buku tersebut adalah “Yayasan Mutu Manikam Nusantara” yang dibina istri SBY, Kristiani Yudhoyono. Yayasan yang dipimpin oleh isteri salah seorang menteri ini bidang keuangannya, Bendahara, ternyata dipegang oleh “Si Ratu Suap” Artalita Suryani alias “Ayin”. Yayasan ini merupakan salah satu dari enam yayasan utama yang menjadi semacam pondasi Partai Demokrat dan SBY dalam Pemilu 2009 dan Pilpres 2009.

“Bendahara yayasan itu adalah Ayin. Jadi saya bertanya, mengapa hanya Ayin dan Jaksa Urip saja yang ditahan. Tapi tidak disebutkan dana siapa yang mereka gunakan, padahal itu adalah dana obligor kakap BLBI yang terus menerus mengemplang, Sjamsul Nursalim,” tegas George seraya menyatakan jika di dalam bukunya juga disertakan sebuah foto yang memperlihatkan SBY dan Kristiani Yudhoyono hadir dalam pernikahan salah seorang anak Arthalitha Suryani alias Ayin. Foto ini sebenarnya juga sudah beredar luas di masyarakat beberapa waktu lalu. George menyatakan jika kedekatan antara mereka bisa jadi menyebabkan sampai detik ini Sjamsul Nursalim masih bisa menghirup udara bebas dan tidak dikejar-kejar polisi.

Siapa pun yang membaca buku tersebut, akan memahami dengan baik jika pola dan strategi pelanggengan kekuasaan yang dilakukan Jenderal Harto di era Orde Baru, ternyata detik ini masih terus dipakai dan dilestarikan oleh penguasa, dengan lagi-lagi mengorbankan rakyat banyak. Salah satunya, menurut buku tersebut, adalah Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurul Salam yang didirikan SBY ketika dia masih menjabat sebagai Menko Polkam di era Megawati Soekarnoputri.

“Darimana yayasan itu punya dana sampai bisa mengirim 250 ulama untuk umroh. Apalagi mengingat biaya per orang 1.000 real, belum lagi biaya untuk mengundang ribuan orang dijamu di Istana,” tutur George Junus Aditjondro.

Bola panas yang menyertai kasus Bank Century ini diyakini akan semakin liar dan panas. 

















Tuesday, November 24, 2009

Book "Menelusuri Jejak Obama"

0 comments

Barack Obama, bakal calon presiden Amerika Serikat 2008 (sekarang sudah diangkat menjadi Presiden setelah memnangi Pemilu AS) pernah tinggal selama 3 tahun di Mentang Dalam dan 2 tahun di kawasan Dempo, Matraman, Jakarta. Ada banyak kisah menarik selama ia tinggal di Jakarta.

Detikcom menelusuri jejak-jejak Barack Obama di Jakarta mulai menemukan rumah bekas Barack Obama, menggali cerita-cerita teman-teman Obama, sampai kontroversi Barack Obama yang dituding pernah bersekolah di madrasah. Oleh lawan-lawan politiknya, isu Obama bersekolah di madrasah ini dijadikan senjata untuk menyerangnya.

Apa kata teman-teman Barack Obama kecil ketika di Indonesia?
“Saya mengenalnya Barry. Tapi, suatu saat saya pernah melihat dia menulis di dinding dengan tulisan ‘Barack’. Oh, ternyata nama aslinya Barack Obama,” ujar Irma, teman Obama saat kecil.
“Nggak nyangka presiden Amerika pernah sekolah di sini (SD Menteng 01, Jakarta-ed),” celetuk Cut Citra Dewi, teman satu sekolah Obama.

Wednesday, August 26, 2009

Zaman Edan, Indonesia Di Ambang Kekacauan

0 comments


Buku penuh fakta mengejutkan ini menuturkan kisah reportase wartawan terkemuka Richard Lloyd Parry di Indonesia antara 1996-1999.

Dia meliput dari dekat dan mengalami langsung peristiwa pembantaian etnis dan kanibalisme di Kalimantan pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan massal di Jakarta 1998, serta pembumihangusan Timor Timur oleh milisi dan tentara Indonesia menyusul jajak pendapat yang mengantarkan kemerdekaan negara itu pada 1999.

Ditulis dengan lancar, akrab, dan enak dibaca, buku ini membuka mata kita akan segala peristiwa kelam di negeri ini yang kerap ditutup-tutupi, sekaligus mengajak kita merenungkan kembali makna reformasi setelah 10 tahun rezim Orde Baru tumbang dan memaknai momen 100 tahun kebangkitan nasional.

Download Buku Zaman Edan, Indonesia Di Ambang Kekacauan

Blog Award

 

FaiK Share. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution of FaiK theme by FaiK MuLaCheLLa | Distributed by Blogger Templates Blog Corp