Tuesday, November 1, 2011
Uji Efek Proteksi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val.) Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi
Saturday, May 14, 2011
Analisis Kualitatif & Kuantitatif Sakarin
![]() |
| Struktur Sakarin |
Dalam perdagangan, produk sakarin dikenal dengan nama Gucide, Glucid, Garantose, Saccharimol, Saccharol, dan Sykosa, sedangkan siklamat memiliki nama dagang yang dikenal sebagai Assugrin, Sucaryl, dan Sugar Twin dan Weight Watchers. Harga sakarin lebih murah dibanding dengan pemanis buatan lainnya, karena itu sakarin banyak digunakan pedagang kecil. Adapun siklamat lebih banyak digunakan oleh produsen tingkat industri besar, disebabkan sifatnya yang tidak menimbulkan ‘after taste’ pahit serta sifatnya yang mudah larut dan tahan panas, sehingga banyak digunakan terutama dalam produk-produk minuman ringan.
Sakarin diperkenalkan pertama kali oleh Fahlberg pada tahun 1879 secara tidak sengaja dari industri tar batubara. Penggunaannya secara komersial sudah diterapkan sejak tahun 1884. Namun sakarin baru terkenal oleh masyarakat luas setelah perang dunia I, di mana sakarin berperan sebagai pemanis alternatif pengganti gula pasir sulit diperoleh. Sakarin menjadi lebih populer lagi di pasaran pada tahun 1960-an dan 1970-an. Saat itu, sifatnya sebagai pemanis tanpa kalori dan harga murahnya menjadi faktor penarik utama dalam penggunaan sakarin. Selain itu sakarin tidak bereaksi dengan bahan makanan, sehingga makanan yang ditambahkan sakarin tidak mengalami kerusakan. Sifat yang penting untuk industri minuman kaleng atau kemasan. Karena itulah, sakarin dalam hal ini sering digunakan bersama dengan aspartame; agar rasa manis dalam minuman tetap bertahan lama. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, aspartame tidak bertahan lama dalam minuman kemasan.
Sifat fisik sakarin yang cukup dikenal adalah tidak stabil pada pemanasan. Sakarin yang digunakan dalam industri makanan adalah sakarin sebagai garam natrium. Hal ini disebabkan sakarin dalam bentuk aslinya yaitu asam, bersifat tidak larut dalam air. Sakarin juga tidak mengalami proses penguraian gula dan pati yang menghasilkan asam; sehingga sakarin tidak menyebabkan erosi enamel gigi.
Sakarin merupakan pemanis alternatif untuk penderita diabetes melitus, karena sakarin tidak diserap lewat sistem pencernaan. Meskipun demikian, sakarin dapat mendorong sekresi insulin karena rasa manisnya; sehingga gula darah akan turun.
Sakarin mulai diteliti sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ahli yang pertama kali menentang penggunaan sakarin, karena dianggap merugikan kesehatan; adalah Harvey Wiley. Menurut beliau, sakarin memang manis seperti gula pasir biasa, namun karena struktur kimianya yang menyerupai tar batubara; tetap saja yang dikonsumsi adalah tar batubara yang seharusnya tidak dimakan. Namun pernyataan terus dibantah keras oleh presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore Roosevelt. Memang sejak pertama diperkenalkan secara luas kepada masyarakat sampai saat itu, belum ada efek buruk sebagai akibat konsumsi sakarin.
Sejak saat itu, keamanan penggunaan sakarin terus diperdebatkan sampai sekarang. Adapun bahaya yang ditimbulkan sakarin adalah efek karsinogenik. Pada sebuah penelitian di tahun 1977, mencit percobaan mengalami kanker empedu setelah mengkonsumsi sakarin dalam jumlah besar. Penentuan efek serupa pada manusia lebih sulit, karena sebagian besar produk makanan yang ada saat ini menggunakan beberapa pemanis buatan sekaligus. Penelitian oleh Weihrauch & Diehl (2004) menunjukkan bahwa konsumsi kombinasi pemanis buatan dalam jumlah besar (>1.6 gram/hari) meningkatkan risiko kanker empedu sebanyak hanya 1.3 kali lipat pada manusia. Namun pemanis manakah yang menimbulkan efek ini tidak diketahui. Setelah beberapa tahun meneliti, sebagian besar ahli akhirnya menyimpulkan bahwa sakarin tidak bersifat karsinogenik pada manusia. Batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI (acceptable daily intake) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 50 - 300 ppm, sedangkan siklamat lebih besar yaitu 500 - 3000 ppm. Meski demikian, penggunaan jenis-jenis pemanis buatan ini hanya disarankan bila memiliki gangguan kesehatan, seperti penderita diabetes.
Sejak saat itu, keamanan penggunaan sakarin terus diperdebatkan sampai sekarang. Adapun bahaya yang ditimbulkan sakarin adalah efek karsinogenik. Pada sebuah penelitian di tahun 1977, mencit percobaan mengalami kanker empedu setelah mengkonsumsi sakarin dalam jumlah besar. Penentuan efek serupa pada manusia lebih sulit, karena sebagian besar produk makanan yang ada saat ini menggunakan beberapa pemanis buatan sekaligus. Penelitian oleh Weihrauch & Diehl (2004) menunjukkan bahwa konsumsi kombinasi pemanis buatan dalam jumlah besar (>1.6 gram/hari) meningkatkan risiko kanker empedu sebanyak hanya 1.3 kali lipat pada manusia. Namun pemanis manakah yang menimbulkan efek ini tidak diketahui. Setelah beberapa tahun meneliti, sebagian besar ahli akhirnya menyimpulkan bahwa sakarin tidak bersifat karsinogenik pada manusia. Batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI (acceptable daily intake) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 50 - 300 ppm, sedangkan siklamat lebih besar yaitu 500 - 3000 ppm. Meski demikian, penggunaan jenis-jenis pemanis buatan ini hanya disarankan bila memiliki gangguan kesehatan, seperti penderita diabetes.
Metode Analisis Kadar Sakarin
Metode analisis penetapan kadar kualitatif dan kuantitatif kadar sakarin yang dapat digunakan untuk penetepan kadar sakarin dalam makanan dan minuman adalah sebagai berikut:
a. Spektrofotometri UV
Spektrofotometri adalah teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 190-380 nm.
Dasar Analisis: Hal yang menjadi dasar sakarin dapat ditetapkan dengan metode ini adalah adanya struktur /gugus kromofor yang dapat menyerap sinar UV.
b. Spektrofotometri Visibel
Spektrofotometri adalah Teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 380-780 nm.
Dasar Analisis: Sakarin yang dihidrolisis menjadi amin primer aromatik akan mampu membentuk kompleks dengan reagen N-1-Naftiletilendiamin yang menghasilkan warna.
c. Spektrofotometri Fluoresensi
Prinsip Dasar spektroflouromerik adalah adanya sinar monokromatis penyebab promosi elektron pada senyawa organik dan atom yang dinamakan sinar eksitasi. Sinar tersebut diserap oleh senyawa atau atom setelah mengalami eksitasi elektron akan kembali ke tingkat dasar.
Dasar Analisis: Sakarin dapt dibuat agar strukturnya lebih rigid dan planar dengan suatu reagen sehingga dapat berfluoresensi.
d. KLTKT (Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi)
Densitometri disebut juga KLTKT adalah suatu metode analisis instrmental yang berdasarkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan noda pada KLT secara kuantitatif.
KLTKT dimaksudkan untuk mendapatkan pemisahan dan hasil analisis yang lebih baik dari KLT biasa. Kelebihannya terletak pada fase diamnya yang mana pada KLTKT ini, fase diam yang digunakan berukuran sangat halus dan pori-porinya seragam serta tebal lapisannya hanya 0,1 mm. Ukuran partikel fase diam yang lebih kecil ini akan menyebabkan semakin besarnya jumlah lempeng teoritis, karenanya pemisahan menjadi lebih efisien.
Dasar Analisis: Sakarin yang dalam campuran dengan zat-zat lain lebih cocok menggunakan metode ini. Pada metode ini tidak perlu dilakukan separasi terlebih dahulu karena sudah terjadi pemisahan pada kromatografi lapis tipis dengan fae gerak dan fase diam yang sesuai.
e. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa dalam suatu sampel pada sejumlah bidang keilmuan. KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat dan protein-protein dalam cairan fisiologis; menentukan kadar senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintesis atau produk degradasi dalam sediaan farmasi; memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan; memurnikan senyawa dalam suatu campuran; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuran; kontrol kualitas dan mengikuti jalannya reaksi sintesis.
Dasar Analisis: Sama halnya dengan KLTKT, yaitu menetapkan kadar sakarin dalam campuran yang tidak memerlukan separasi terlebih dahulu. Bedanya adalah pada kadar sampel yang digunakan, yaitu dalam satuan µg/ml, sedangkan KLTKT adalah mg/ml.
f. Nitrimetri
Nama lain dari metode ini adalah titrasi diazotasi, yaitu metode penetapan kadar secara kuantitatif menggunkan larutan baku NaNO2. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium.
Dasar Analisis: Sakarin mempunyai gugus amin sekunder aromatis yang dapat dihidrolisis menjadi gugus amin primer aromatis, sehingga dapat membentuk garam diazonium dengan NaNO2.
g. Alkalimetri
Merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunkan larutan baku basa.
Dasar Analisis: Sakarin merupakan senyawa yang bersifat asam karena ada gugus penarik electron yaitu atom O, kemudian untuk menstabilkannya dilepaskan atom H. Hal tersebut yang mendasari sakarin dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri.
h. N total
Dasar Analisis: Metode ini dapat digunakan karena sakarin mengandung atom N yang dengan cara destruksi dan digesti dapat menghasilkan atom N. Kemudian dilakukan titrasi secara asidi-alkalimetri.
i. Gravimetri
Adalah cara analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap (berat konstannya). Dalam analisis ini unsur atau senyawa yang dianalisis dipisahkan dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar analisis gravimetri menyangkut perubahan unsur atau gugus dari senyawa yang dianalisis menjadi senyawa lain yang murni dan mantap (stabil) sehingga dapat diketahui berat tetapnya. Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari rumus senyawa serta berat atom penyusunnya.
Dasar Analisis: Sakarin dapat diendapkan dengan suatu reagen tertentu yang selanjutnya endapan tersebut diperlakukan sedemikian rupa sehingga didapatkan bobot konstan.
a. Spektrofotometri UV
Spektrofotometri adalah teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 190-380 nm.
Dasar Analisis: Hal yang menjadi dasar sakarin dapat ditetapkan dengan metode ini adalah adanya struktur /gugus kromofor yang dapat menyerap sinar UV.
b. Spektrofotometri Visibel
Spektrofotometri adalah Teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 380-780 nm.
Dasar Analisis: Sakarin yang dihidrolisis menjadi amin primer aromatik akan mampu membentuk kompleks dengan reagen N-1-Naftiletilendiamin yang menghasilkan warna.
c. Spektrofotometri Fluoresensi
Prinsip Dasar spektroflouromerik adalah adanya sinar monokromatis penyebab promosi elektron pada senyawa organik dan atom yang dinamakan sinar eksitasi. Sinar tersebut diserap oleh senyawa atau atom setelah mengalami eksitasi elektron akan kembali ke tingkat dasar.
Dasar Analisis: Sakarin dapt dibuat agar strukturnya lebih rigid dan planar dengan suatu reagen sehingga dapat berfluoresensi.
d. KLTKT (Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi)
Densitometri disebut juga KLTKT adalah suatu metode analisis instrmental yang berdasarkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan noda pada KLT secara kuantitatif.
KLTKT dimaksudkan untuk mendapatkan pemisahan dan hasil analisis yang lebih baik dari KLT biasa. Kelebihannya terletak pada fase diamnya yang mana pada KLTKT ini, fase diam yang digunakan berukuran sangat halus dan pori-porinya seragam serta tebal lapisannya hanya 0,1 mm. Ukuran partikel fase diam yang lebih kecil ini akan menyebabkan semakin besarnya jumlah lempeng teoritis, karenanya pemisahan menjadi lebih efisien.
Dasar Analisis: Sakarin yang dalam campuran dengan zat-zat lain lebih cocok menggunakan metode ini. Pada metode ini tidak perlu dilakukan separasi terlebih dahulu karena sudah terjadi pemisahan pada kromatografi lapis tipis dengan fae gerak dan fase diam yang sesuai.
e. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa dalam suatu sampel pada sejumlah bidang keilmuan. KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat dan protein-protein dalam cairan fisiologis; menentukan kadar senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintesis atau produk degradasi dalam sediaan farmasi; memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan; memurnikan senyawa dalam suatu campuran; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuran; kontrol kualitas dan mengikuti jalannya reaksi sintesis.
Dasar Analisis: Sama halnya dengan KLTKT, yaitu menetapkan kadar sakarin dalam campuran yang tidak memerlukan separasi terlebih dahulu. Bedanya adalah pada kadar sampel yang digunakan, yaitu dalam satuan µg/ml, sedangkan KLTKT adalah mg/ml.
f. Nitrimetri
Nama lain dari metode ini adalah titrasi diazotasi, yaitu metode penetapan kadar secara kuantitatif menggunkan larutan baku NaNO2. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium.
Dasar Analisis: Sakarin mempunyai gugus amin sekunder aromatis yang dapat dihidrolisis menjadi gugus amin primer aromatis, sehingga dapat membentuk garam diazonium dengan NaNO2.
g. Alkalimetri
Merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunkan larutan baku basa.
Dasar Analisis: Sakarin merupakan senyawa yang bersifat asam karena ada gugus penarik electron yaitu atom O, kemudian untuk menstabilkannya dilepaskan atom H. Hal tersebut yang mendasari sakarin dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri.
h. N total
Dasar Analisis: Metode ini dapat digunakan karena sakarin mengandung atom N yang dengan cara destruksi dan digesti dapat menghasilkan atom N. Kemudian dilakukan titrasi secara asidi-alkalimetri.
i. Gravimetri
Adalah cara analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap (berat konstannya). Dalam analisis ini unsur atau senyawa yang dianalisis dipisahkan dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar analisis gravimetri menyangkut perubahan unsur atau gugus dari senyawa yang dianalisis menjadi senyawa lain yang murni dan mantap (stabil) sehingga dapat diketahui berat tetapnya. Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari rumus senyawa serta berat atom penyusunnya.
Dasar Analisis: Sakarin dapat diendapkan dengan suatu reagen tertentu yang selanjutnya endapan tersebut diperlakukan sedemikian rupa sehingga didapatkan bobot konstan.
Friday, May 13, 2011
Pengaruh Magnesium Stearat, Polietilenglikol 4000 atau Campurannya Terhadap Sifat Fisis dan Profil Disolusi Deksametason Pada Tablet Campuran Interaktif Deksametason
Campuran interaktif adalah campuran dimana obat dalam ukuran micronized menempel pada permukaaan partikel pembawa yang berukuran lebih besar. Untuk obat yang berpotensi tinggi (dosis rendah), sistem ini menguntungkan karena dapat menjamin homogenitas dan stabilitas dalam arti tidak mengalami segregasi. Sedangkan unutk obat yang sukar larut dalam air, sistem campuran interaktif akan mempercepat pelarutan obatnya. Selain itu, karena partikel pembawanya relatif kasar maka sifat alir dan kompresibilitasnya relatif baik, sehingga dapat dibuat tablet kempa langsung.
Dalam pembuatan tablet campuran interaktif ini sering digunakan magnesium stearat sebagai bahan pelicin, penambahan ini tidak menyebabkan lepasnya partikel-partikel obat dari unit-unit interaktif. Magnesium sterarat akan menempel dan melapisi unit interaktif hingga stabil, tetapi zat ini memberikan efek negatif terhadap waktu hancur dan penurunan kecepatan pelarutan tablet, hal ini terjadi karena terbentuknya lapisan magnesium stearatselama proses pencampuran tadi. Magnesium stearat bersifat hidrofob sehingga lapisan magnesium stearat yang terjadi menghalangi penetrasi medium cairan untuk menghancurkan tablet dan pelarutan tabletnya.
Sedangkan apabila Polietilenglikol 4000 (PEG 4000) jika ditambahkan ke dalam campuran interaktif juga akan menstabilkan sistemnya. PEG 4000 bersifat hidrofil dan dapat dipakai sebagai bahan pelicin tablet. Pengaruh bahan pelicin yang bersifat hidrofil ini terhadap tablet belum banyak diteliti, oleh karena itu dilakukanlah penelitian ini untuk mengatasi masalah yang timbul.
Dalam penelitian ini digunakan bahan-bahan antara lain: deksametason, PEG 4000, magnesium stearat, metanol, HCL, laktosum. Sedangkan alat yang digunakan adalah cube mixer spektrofotometer, dissolution tester (model Poole dengan pengaduk berbentuk dayung), mesin tablet single punch, hardness tester. Abration tester, disentegration tester.
Pada penelitian dibagi dalam dua bagian besar yaitu pembuatan sediaan dan evaluasi sifat-sifat tablet dan kecepatan disolusi deksametason. Pada bagian pembuatan tablet dilakukan pembuatan granul pembawa 500-700 µg, pembuatan campuran interaktif dan pembuatan tablet campuran deksametason dengan berbagai konsentrasi. Sedangkan pada bagian evaluasi sidat fisik dan disolusi tablet dilakukan uji kerapuhan, uji kekerasan, uji waktu hancur, uji keseragaman bobot, uji keseragaman kada deksametason dalam tablet, dan uji kecepatan pelarutan obat dalam tablet.
Untuk mengetahui pengaruh bahan pelicin, tablet cetak langsung campuran interaktif deksametason (1/3%) dibuat dalam 5 formulasi dengan 5 bahan pelicin yang berbeda, kadar 1%, masing-masing berturut-turut: magnesium stearat, PEG 4000, dan campuran magnesium stearat dengan PEG 400 dengan perbandingan 3:1, 1:1 dan 1:3.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan penggantian magnesium sterat dengan PEG 400 sebagai bahan pelicin tablet deksamtason mempengaruhi waktu hancur dan profil disolusi dari deksametason. Karena PEG 400 mempunyai sifat hidrofil maka mempercepat waktu hancur dan memperbaiki profil disolusi dari deksametason. Makin tinggi kadar PEG maka makin cepat waktu hancur dan makin baik profil disolusinya. Walau demikian ada kecenderungan terjadi optimasi. Profil disolusi yang paling baik terjadi pada campuran campuran magnesium stearat dengan PEG 400 dengan perbandingan 1:1 . Disolution efficiency pada menit ke 30 tidak berbeda bermakna pada semua formulasi, tapi pada menit ke 15 terjadi perbedaan bermakna antara tablet yang menggunakan magnesium stearat saja dengan keempat formulasi lainnya.
Thursday, June 3, 2010
Abstraks PKM-GT Dikti 2009 - Minyak Goreng Anti Kanker
Makanan yang mengalami proses penggorengan tidak hanya berefek meningkatkan kadar kolesterol darah serta menyebabkan kenaikan risiko terjadinya stroke dan penyakit jantung koroner. Dari hasil penelitian ternyata makanan yang mengalami proses penggorengan menghasilkan senyawa pemicu kanker (karsinogen). Eden Tareke dkk., memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Analysis of Acrylamide, a Carsinogen Formed In Heated Foodstuffs” bahwa makanan yang mengalami penggorengan, dapat merangsang pembentukan senyawa pemicu kanker bernama Akrilamida.
Selain mengandung Akrilamida, minyak goreng juga mengandung lemak yang harus diperhatikan pula. Berdasarkan analisa, minyak yang beredar di masyarakat lebih banyak mengandung minyak jenuh daripada minyak tidak jenuh. Maka minyak goreng tersebut tidak baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi karena kandugan minyak jenuh yang lebih banyak dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti kanker. Berdasarkan analisa, minyak goreng yang beredar di masyarakat, minyak goreng sayur, lebih banyak mengandung minyak jenuh daripada minyak tak jenuh.
Dari hal tersebut maka diperlukan sebuah inovasi pada minyak goreng, sehingga masyarakat, khususnya penderita kanker tidak perlu khawatir lagi dalam mengkonsumsi makanan yang mengalami proses penggorengan. Inovasi tersebut berupa minyak goreng alami dari kombinasi minyak kelapa jenis Virgin Coconut Oil dan Pandanus Conoidus Lam. Dimana minyak kelapa adalah minyak goreng yang aman dikonsumsi, sedangkan minyak dari buah merah yang sudah digunakan secara tradisi telah digunakan sebagai minyak goreng oleh suku pedalaman Papua dan mempunyai kandungan senyawa yang unggul dan berkhasiat sebagai anti kanker. Tidak menutup kemungkinan minyak dari kombinasi tersebut dapat berkhasiat sebagai antivirus dan antibiotik dikarenakan dari kombinasi tersebut mengandung senyawa-senyawa unggul.
Virgin Coconut Oil atau VCO adalah minyak yang dihasilkan dari buah kelapa segar. Berbeda dengan minyak kelapa biasa, VCO dihasilkan tidak melalui penambahan bahan kimia atau pun proses yang melibatkan panas yang tinggi. Keuntungan proses ini adalah minyak yang diperoleh dapat tahan sampai 2 tahun tanpa menjadi tengik. Selain warna dan rasa yang berbeda, VCO mempunyai asam lemak yang tidak terhidrogenasi seperti pads minyak kelapa biasa. VCO menjadi populer karena manfaatnya untuk kesehatan tubuh. Hal ini disebabkan VCO mengandung banyak asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty Acid/MCFA). Sifat MCFA yang mudah diserap sampai ke mitokondria akan meningkatkan metabolisme tubuh. Penambahan energi yang dihasilkan oleh metabolisme itu menghasilkan efek stimulasi dalam seluruh tubuh manusia sehingga meningkatkan tingkat energi yang dihasilkan. Kandungan asam laurat (C-12) menyebabkan efek kesehatan dari VCO hampir sama dengan air susu ibu (ASI). Hal ini dikarenakan asam laurat dalam tubuh manusia akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin sendiri bersifat sebagai antivirus, antibakteri dan antiprotozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monolaurin dapat merusak membran lipid virus diantaranya virus HIV, influenza, Hepatitis C, dan cytomelagovirus. VCO bisa dikombinasikan dengan minyak lain yang mengandung zat penting seperti zat antioksidan.
Dari hasil analisis Fourier Transform Infra Red (FTIR) yang telah dilakukan menunjukkan bahwa seluruh gugus fungsional yang terdapat dalam VCO dan minyak buah merah muncul sebagai gugus fungsional dalam spektra kombinasi tersebut. Artinya, semua senyawa aktif yang terdapat dalam VCO dan minyak buah merah dapat dipertahankan dalam campuran dan karena tidak terjadi reaksi kimia yang merugikan.
Dari hal-hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kombinasi VCO dan buah merah dapat dikombinasikan menjadi minyak goreng anti kanker. Dengan adanya minyak goreng ini maka masyarakat khususnya penderita kanker ini dapat menikmati makanan yang mengalami proses penggorengan tanpa harus khawatir akan adanya senyawa-senyawa berbahaya sekaligus bisa dijadikan terapi alternetif bagi penderita kanker.
By :
Faik Fauzi
Via Hayati
Siti Hajar Nur Safita
Wednesday, June 2, 2010
Toksisitas Pestisida Organophosphat dan Penanganannya
Pestisida adalah bahan kimia untuk membunuh hama (insekta, jamur dan gulma). Sehingga pestisida dikelompokkan menjadi :
- Insektisida (pembunuh insekta)
- Fungisida ( pembunuh jamur)
- Herbisida (pembunuh tanaman pengganggu)
Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan di rumah tangga untuk memberantas nyamuk, kepinding, kecoa dan berbagai serangga penganggu lainnya. Di lain pihak pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan keracunan pada orang. Kematian yang disebabkan oleh keracunan pestisida banyak dilaporkan baik karena kecelakaan waktu menggunakannya, maupun karena disalahgunakan (untuk bunuh diri). Dewasa ini bermacam-macam jenis pestisida telah diproduksi dengan usaha mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya daya toksisitas pada manusia, tetapi sangat toksik pada serangga.
Diantara jenis atau pengelompokan pestisida tersebut diatas, jenis insektisida banyak digunakan dinegara berkembang, sedangkan herbisida banyak digunakan di negara yang sudah maju. Dalam beberapa data Negara-negara yang banyak menggunakan pestisida adalah sebagai berikut
- Amerika Serikat 45%
- Eropa Barat 25%
- Jepang 12%
- Negara berkembang lainnya 18%
Dari data tersebut terlihat bahwa negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan pestisida masih tergolong rendah. Bila dihubungkan dengan pelestarian lingkungan maka penggunaan pestisida perlu diwaspadai karena akan membahayakan kesehatan bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya.
Kasus-kasus toksisitas organofosfat:
- Menurut WHO, WHO (World Health Organisation) 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara-negara berkembang terkena racun pestisida dan sekitar 18.000 orang diantaranya meninggal setiap tahunnya.
- Sepanjang kurun waktu 2004-2008 terjadi keracunan fatal insektisida sebanyak 20 orang. Sembilan belas kasus (95%) meninggal karena bunuh diri menggunakan Carbanat dan satu orang (5%) keracunan organosfosfat karena kecelakaan. Korban wanita sebanyak 80% dan kebanyakan berusia antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida. Penyalahgunaan insektisida untuk tujuan bunuh diri mungkin terjadi oleh karena ketersediaannya di tingkat keluarga maupun kemudahan untuk memperoleh di pasaran.
Klasifikasi Pestisida
Pestisida dapat digolongkan menurut penggunaannya dan disubklasifikasi menurut jenis bentuk kimianya. Dari bentuk komponen bahan aktifnya maka pestisida dapat dipelajari efek toksiknya terhadap manusia maupun makhluk hidup lainnya dalam lingkungan yang bersangkutan.
Klasifikasi
|
Bentuk Kimia
|
Bahan aktif
|
Keterangan
|
1. Insektisida
|
Botani
Carbamat
Organofosfat
Organochlorin
|
Nikotine
Pyrethrine
Rotenon
Carbaryl
Carbofuran
Methiocorb
Thiocarb
Dichlorovos
Dimethoat
Palathion
Malathion
Diazinon
Chlorpyrifos
DDT
Lindane
Dieldrin
Eldrin
Endosulfan
gammaHCH
|
Tembakau
Pyrtrum
-
toksik kontak
toksik sistemik
bekerja pada lambung
juga moluskisida
toksik kontak
toksik kontak, sistemik
toksik kontak
toksik kontak
kontak dan ingesti
kontak, ingesti
persisten
persisten
kontak, ingesti
kontak, ingesti
|
Herbisida
|
Aset anilid
Amida
Diazinone
Carbamate
Triazine
Triazinone
|
Atachlor
Propachlor
Bentazaone
Chlorprophan
Asulam
Athrazin
Metribuzine
Metamitron
|
Sifat residu
Kontak
Toksin kontak
|
Fungisida
|
Inorganik
Benzimidazole
Hydrocarbon-phenolik
|
Bordeaux
mixture
Copper
oxychlorid
Mercurous
chloride
Sulfur
Thiabendazole
Tar oil
|
Protektan
Proteoktan
Protektan, sistemik
Protektan, kuratif
|
Organofosfat
Lebih dari 50.000 komponen organofosfat telah disynthesis dan diuji untuk aktivitas insektisidanya. Tetapi yang telah digunakan tidak lebih dari 500 jenis saja dewasa ini. Semua produk organofosfat tersebut berefek toksik bila tertelan, dimana hal ini sama dengan tujuan penggunaannya untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida digunakan untuk keperluan medis misalnya fisostigmin, edroprium dan neostigmin yang digunakan utuk aktivitas kholinomimetik (efek seperti asetyl kholin). Obat tersebut digunakan untuk pengobatan gangguan neuromuskuler seperti myastinea gravis. Fisostigmin juga digunakan untuk antidotum pengobatan toksisitas ingesti dari substansi antikholinergik (mis: trisyklik anti depressant, atrophin dan sebagainya). Fisostigmin, ekotiopat iodide dan organophosphorus juga berefek langsung untuk mengobati glaucoma pada mata yaitu untuk mengurangi tekanan intraokuler pada bola mata.
a) Struktur Komponen Organofosfat
Organophosphat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Bahan tersebut digunakan untuk gas saraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal synthesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion, sarin dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap orang (mis: malathion), tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.
![]() |
| struktur komponen organofosfat |
b) Mekanisme Toksisitas Organosphosfat
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.
![]() |
| Acetylcholine Receptors |
Penghambatan kerja enzim terjadi karena organofosfat melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil.
Tabel Nilai LD50 Insektisida Organofosfat
c. Gejala Keracunan
Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimilasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi.saraf pusat maupun perifer.
Tabel. Efek muskarinik, nikotinik dan saraf pusat pada toksisitas organofosfat
Efek
|
Gejala
|
1. Muskarinik
|
-
Salivasi, lacrimasi, urinasi dan diaree (SLUD)
-
Kejang perut
-
Nausea dan vomitus
-
Bradicardia
-
Miosis
-
Berkeringat
|
2. nikotinik
|
-
Pegal-pegal, lemah
-
Tremor
-
Paralysis
-
Dyspnea
-
Tachicardia
|
3. sistem
saraf pusat
|
-
Bingung, gelisah, insomnia, neurosis
-
Sakit kepala
-
Emosi tidak stabil
-
Bicara terbata-bata
-
Kelemahan umum
-
Convulsi
-
Depresi respirasi dan gangguan jantung
-
Koma
|
Gejala awal seperti SLUD terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.
Penatalaksanaan Penanganan Kasus Keracunan Organofosfat
Seperti bahan kimia beracun lainnya, organofosfat dapat meracuni orang dengan beberapa cara: melalui kulit dan mata, melalui mulut (dengan menelan), atau melalui udara (dengan bernapas). Setiap kasus keracunan, tindakan yang diambil untuk orang yang terpapar berbeda tergantung cara pemaparan.
a) Bila kulit terkena organofosfat
Kebanyakan keracunan organofosfat terjadi akibat terserapnya organofosfat melalui kulit. Hal ini terjadi ketika organofosfat dituang dan tumpah, atau terciprat ketika campuran organofosfat diaduk sebelum disemprotkan, atau ketika Anda menyentuh tanaman yang baru saja disemprot. Organofosfat juga dapat menyentuh kulit melalui pakaian atau ketika Anda mencuci pakaian yang terkena organofosfat.
Kulit yang ruam dan iritasi adalah gejala awal terjadinya keracunan melalui kulit. Mengingat bahwa gejala kulit tersebut bisa terjadi karena hal-hal lain, seperti reaksi terhadap tanaman tertentu, gigitan serangga, infeksi, atau alergi, maka sulit untuk mengetahui apakah gejala yang timbul ini akibat organofosfat atau reaksi terhadap hal lain.
Bicarakanlah dengan pekerja lainnya untuk mengetahui apakah mereka mengalami reaksi yang serupa saat bekerja dengan tanaman pangan yang sama. Jika Anda bekerja dengan organofosfat dan mengalami ruam kulit, lebih baik segera ditangani seolah-olah gejala tersebut disebabkan oleh organofosfat.
Perawatan
- Jika tubuh Anda atau orang lain terkena organofosfat: Organofosfat dapat melekat di kulit, rambut dan pakaian walaupun Anda tidak dapat melihat atau menciumnya.
- Cucilah dengan sabun setiap kali selesai menggunakan organofosfat.
- Cepat ganti pakaian yang terkena percikan organofosfat.
- Segera cuci bagian tubuh yang terkena organofosfat dengan sabun dan air dingin.
- Jika organofosfat masuk ke mata, cucilah mata dengan air bersih selama 15 menit.
- Jika kulit Anda melepuh akibat organofosfat:
- Bersihkan dengan air dingin.
- Jangan lepaskan apa pun yang menempel di luka tersebut.
- Jangan oleskan salep, minyak, atau mentega.
- Jangan pecahkan kulit yang melepuh.Jangan lepaskan kulit yang terkelupas.
- Tutup kulit yang melepuh dengan kasa steril, jika ada.
- Jika rasa sakit tidak hilang, segera cari bantuan pengobatan! Bawalah wadah organofosfat atau informasi nama organofosfat yang digunakan. Hal ini perlu untuk memberikan pengobatan yang tepat.
b) Bila organofosfat tertelan
Organofosfat dapat tertelan jika seseorang makan, minum, atau merokok di kebun sambil bekerja dengan organofosfat, atau meminum air yang sudah terkontaminasi oleh organofosfat. Anak-anak dapat memakan atau meminum organofosfat terutama jika organofosfat disimpan dalam wadah yang juga digunakan untuk menyimpan makanan, atau dibiarkan di tempat terbuka atau di tempat yang rendah, mudah terjangkau oleh anak-anak.
Perawatan
- Bila seseorang menelan organofosfat
- Bila orang tersebut tidak sadar, baringkan dalam posisi miring dan pastikan ia tetap bernapas.
- Bila orang tersebut tidak bernapas, cepat berikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut. Memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut dapat membuat Anda terpapar organofosfat juga, jadi gunakan masker saku, sepotong kain, atau kantong plastik tipis yang tengahnya sudah dilubangi sebelum Anda memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut.
- Cari kemasan organofosfatnya dan segera baca label atau informasi yang tertera. Label ini akan menjelaskan apakah Anda harus membuatnya memuntahkan racunnya atau tidak.
- Bila orang tersebut dapat minum, berikan banyak air bersih untuk diminum.
- Carilah pertolongan medis. Jika mungkin, bawalah selalu label atau nama organofosfat agar mendapat pertolongan yang paling tepat.
- Jangan sampai muntah bila label melarang muntah. Bila Anda menelan organofosfat yang mengandung bensin, minyak tanah, xylene, atau cairan lain yang mengandung bahan bakar, jangan pernah muntah karena akan memperburuk kondisi. Disamping itu, jangan biarkan orang tersebut muntah bila ia tidak sadarkan diri, bingung, atau tubuhnya gemetar.
- Bila Anda yakin label menyatakan boleh dimuntahkan, berikan orang tersebut: segelas air garam atau 2 sendok makan tumbukkan daun-daunan beraroma keras (seperti seledri, kemangi, atau daun-daunan lokal lainnya) dengan 1 atau 2 gelas air hangat.
- Ajak penderita bergerak terus; ini akan membantu muntah lebih cepat. Setelah muntah, berikan arang aktif atau arang bubuk. Hal ini akan membantu menyerap sisa racun yang masih ada di dalam perut.
- Campurkan ½ cangkir arang aktif atau 1 sendok makan arang bubuk dengan air hangat dalam gelas besar. Arang bubuk dibuat dari kayu yang dibakar, atau bahkan dari roti bakar atau tortilla (roti tipis dari jagung, biasa dimakan orang Mexico) bakar. Arang aktif lebih baik daripada arang bubuk, namun arang bubuk juga dapat dipakai. JANGAN gunakan arang briket karena beracun!!
- Setelah orang tersebut muntah, atau bahkan bila ia tidak muntah, Anda dapat memperlambat penyebaran racun dalam perjalanan ke dokter dengan memberikannya minuman: 1 butir putih telur, atau segelas susu sapi murni. Minum susu tidak mencegah keracunan organofosfat namun dapat memperlambat penyebaran racun.
Kapan menggunakan atropin
Atropin adalah obat untuk mengatasi keracunan dari jenis organofosfat tertentu yang disebut organofosfat dan karbamat. Jika label pada kemasan menyatakan agar menggunakan atropin, atau jika dikatakan bahwa organofosfat itu merupakan “cholinesterase inhibitor” (suatu bahan kimia yang menghentikan proses ensim kholinesterase), gunakan atropin sesuai petunjuk. Jika label tidak menganjurkan penggunaan atropin, jangan gunakan.
Atropin hanya digunakan untuk keracunan organofosfat atau karbamat. Atropin TIDAK dapat mencegah keracunan tetapi hanya menunda dampak keracunan. Atropin sebaiknya tidak digunakan sebelum penyemprotan.
PENTING: Jangan memberikan obat-obat ini untuk masalah keracunan organofosfat: obat tidur (sedatif), morfin, barbiturat, phenothiazine, aminophylline, atau obat lain yang memperlambat atau mempersulit pernapasan karena akan membuat orang tersebut berhenti bernapas.
c) Bila Organofosfat Terhirup
Bila organofosfat dilepas ke udara, kita menghirupnya melalui hidung dan mulut. Begitu masuk ke paru-paru, dengan cepat organofosfat masuk ke dalam darah dan menyebar racun ke seluruh tubuh.
Beberapa organofosfat tidak berbau sehingga sulit diketahui keberadaannya di udara. Umumnya bentuk organofosfat yang menyebar di udara adalah fumigan (pengasap), aerosol, pengabut, bom asap, pest strips (organofosfat yang dilekat pada potongan kertas), penyemprot, dan residu dari penyemprotan. Anda dapat pula menghirup debu organofosfat di tempat penyimpanan, atau saat sedang digunakan di dalam ruangan tertutup seperti rumah kaca, atau ketika sedang diangkut ke lahan pertanian.
Debu yang mengandung organofosfat di udara dapat menyebar dan mengotori wilayah yang jauh dari tempat dimana bahan ini digunakan. Dengan demikian debu organofosfat mudah masuk ke dalam rumah-rumah. Bila Anda merasa telah menghirup organofosfat, segeralah menjauh dari organofosfat! Jangan tunggu sampai kondisi memburuk.
Perawatan Jika Anda atau orang lain menghirup organofosfat:
- Tinggalkan segera daerah di mana ia menghirup racun, terutama jika dalam ruangan tertutup.
- Hiruplah udara segar. Longgarkan pakaian untuk memudahkan bernapas.
- Duduk dengan posisi kepala diangkat dan bahu ditegakkan.
- Bila orang tersebut tidak sadarkan diri, baringkan dalam posisi miring • dan awasi agar ia dapat bernapas dengan lancar.
- Bila orang tersebut tidak bernapas, segera lakukan pernapasan dari mulut ke mulut
- Carilah pertolongan medis. Bawa serta label informasi atau nama organofosfatnya.
- Jika ragu-ragu, segeralah keluar!
Subscribe to:
Posts (Atom)








