Wednesday, August 24, 2011

Book "Digital Fortress - Benteng Digital"

0 comments

National Security Agency (NSA) adalah lembaga paling rahasia dan bernilai miliaran dolar. Ketika mesin pemecah kode NSA yang sudah teruji keandalannya menghadapi sebuah kode misterius yang tidak dapat dipecahkan, badan rahasia itu mengundang kepala kriptografernya, Susan Fletcher, seorang ahli matematika yang cantik dan cerdas. Hasil temuan Susan memunculkan gelombang yang mengguncang para pemangku kekuasaan. NSA tersandera ... bukan oleh bom atau senjata, tetapi oleh kode yang begitu kompleks sehingga, jika diedarkan, akan melumpuhkan dinas intelijen Amerika.

Terjebak dalam badai-kencang dusta dan rahasia, Susan Fletgher berjuang menyelematkan perusahaan yang dipercayainya. Terjegal dari segala sisi, ia mendapati dirinya tidak hanya berperang demi negaranya, tetapi juga hidupnya dan pada akhirnya, hidup lelaki yang dicintainya. Dari kekuatan ruang bawah tanah ke gedung pencakar langit di Tokyo sampai katedral yang menjulang tinggi di Spanyol, sebuah pertarungan hebat terbentang. Digital Fortress - Benteng Digital Kode Pamungkas, Kuat, Berbahaya dan Tidak Terpecahkan.


Tuesday, May 4, 2010

Book "Dan Brown - The Lost Symbol"

1 comments

Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Bersama si ahli simbologi lajang, Profesor Robert Langdon, saya kembali menelusuri misteri ruangan-ruangan bawah tanah yang menyimpan bukan saja keindahan tetapi juga sejarah menakjubkan. Kali ini, Langdon membawa kita mengungkap rahasia Gedung Capitol di Washington, DC, Amerika Serikat.  

Ada apa gerangan di balik kemegahan mahakarya Gedung Capitol itu? Tentu tidak akan saya sampaikan di sini agar kau membacanya sendiri. Saya hanya akan menceritakan betapa buku ini akan kembali membawamu pada sebuah petualangan penuh keajaiban di balik simbol-simbol kuno serta sihir ilmu pengetahuan. Menurut saya, novel-novel Dan Brown, bukan sekadar menyajikan ketegangan dan horror, tetapi juga ilmu pengetahuan. Jadi rasanya karya-karyanya bisa digolongkan juga ke dalam genre science fiction.

 Bagi engkau yang telah membaca dua buku sebelumnya (The Da Vinci Code dan Angels and Demons), akan berjumpa kembali dengan sang jagoan: Robert Langdon dengan bidadari pendampingnya, Katherine Solomon, dalam sebuah thriller yang berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Robert Langdon berupaya membongkar sebuah rahasia yang menyelubungi perkumpulan kaum Mason yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan ternyata George Washington dan Benjamin Franklin pernah menjadi anggotanya.

Sudah tentu, dalam usaha mengungkapnya, Langdon menemui banyak kendala. Dia harus berhadapan dengan seorang penjahat sadis yang tak segan-segan membunuh demi mendapatkan yang diinginkannya. Salah satu korbannya adalah sahabat terbaik Langdon, Peter Solomon, salah seorang anggota terhormat Freemasonry. Nyawa Peter terancam dan hanya Langdon-lah yang mampu menyelamatkannya. (Ya iyalah, secara dia jagoannya ).

Maka, sebagaimana The Da Vinci Code, Brown mengajak kita menggali misteri seputar Piramida Mason, simbol agung yang menyimpan sebuah “Kata” yang hilang. Dengan piawai, Brown menyingkap lapis demi lapis kisahnya dalam tempo cepat. Setiap babnya selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memaksa kita membuka halaman berikutnya demi menuntaskan rasa penasaran. Brown memang ahlinya meramu misteri dan ketegangan. Deskripsinya tentang satu subjek sangat detail tanpa terjerumus menjadi “kuliah” ilmiah yang membosankan. Saya dibuat tercengang setiap kali sebuah selimut misteri tersibak. Sudah pasti, novel yang semula hendak diberi judul The Solomon Key ini dibuat melalui sebuah riset yang serius.

Salah satu daya tarik dari buku-buku Brown adalah keberaniannya menghadirkan fakta sejarah dalam versi yang berbeda yang hasilnya kerap menimbulkan kehebohan dan pro-kontra di kalangan pembacanya. Bagi saya, terlepas dari semua kontroversinya, sangat menikmati suguhan kisahnya tentang benda-benda dan artefak kuno yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya seakan-akan tengah diajak tamasya ke sebuah museum yang penuh berisi karya seni agung lengkap dengan kisah-kisah menakjubkan di sebaliknya. Entah itu hanya sekadar hasil imajinasi Brown atau memang fakta sebenarnya, saya tak lagi terlalu peduli.

Agak sedikit berbeda dengan The Da Vinci Code, The Lost Symbol tidak lagi menampilkan kejahatan konspirasi. Penjahatnya hanya seorang dengan motif balas dendam. Dan dalam urusan tegang-tegangan, Angels and Demons masih jauh lebih mencekam. Saya ingat betul, selama membaca novel itu pada malam hari, berulang kali saya menengok ke jendela, merasa seram dan ngeri sendiri seakan-akan penjahat dari novel tersebut bisa muncul di kamar saya sewaktu-waktu. Hiiiiy….

Tetapi, sebagai sebuah bacaan setebal 712 halaman, The Lost Symbol sangat menghibur, terutama pada bagian akhirnya yang tidak terduga.


Sunday, February 14, 2010

Book "Deception Point (Titik Muslihat)"

0 comments




Pesawat jet NASA membelok tinggi di atas Samudra Atlantik. Di dalamnya, Administrator Lawrence Estrom memandang untuk terakhir kalinya ke arah batu hangus yang diletakkan di ruang kargo. Kembali ke laut, pikirnya. Tempat mereka menemukanmu. 

Sesuai perintah Ekstrom, pilot pesawat itu membuka pintu kargo dan melepaskan batu besar tersebut. Mereka melihat ketika batu yang besar sekali itu meluncur turun ke bawah melalui bagian belakang pesawat, kemudian bergerak melintasi langit di atas lautan yang disinari matahari, dan kemudian menghilang di bawah ombak laut yang memercik tinggi dengan warna keperakan seperti pilar. 

Batu raksasa itu tenggelam dengan cepat. Di bawah air, pada kedalaman tiga ratus kaki, hamper tidak ada cahaya yang cukup untuk melihat siluet batu yang jatuh itu. Ketika melewati lima ratus kaki, batu itu tiba di kegelapan total. Masih terus bergulir dengan cepat. Semakin dalam. 
Batu itu jatuh dalam waktu hampir dua belas menit. Kemudian, seperti sebongkah meteorit menabrak sisi gelap bulan, batu itu menabrak hamparan lumpur yang luas di dasar lautan, dan menghasilkan awan lumpur. Ketika lumpur itu mengendap lagi, salah satu dari ribuan spesies laut yang belum dikenal manusia berenang mendekat untuk memeriksa pendatang baru yang aneh itu. Karena tidak tertarik, makhluk itu beranjak pergi. 


Friday, February 12, 2010

Book "Malaikat dan Iblis"

0 comments



Robert Langdon, simbologis Harvard tersohor, tidak pernah menyangka kalau satu hari dalam hidupnya akan dipenuhi oleh terlalu banyak kejutan. Kalau hanya melihat ambigram yang bertuliskan nama kelompok persaudaraan Illuminati, mungkin itu bukan masalah besar. Tapi melihatnya tercap di dada lima lelaki yang terbunuh pada hari yang sama?Jauh sebelum memecahkan Kode Da Vinci, Robert Langdon diminta oleh sebuah institusi penelitian di Swiss untuk menganalisis simbol penuh teka-teki yang tercap di dada seorang ahli fisika yang tewas terbunuh. 


Apa yang ditemukannya sungguh di luar dugaan: dendam mematikan terhadap Gereja Katolik dari sebuah persaudaraan kuno yang sudah berlangsung selama berabad-abad Illuminati. Terdorong untuk menyelamatkan Vatikan dari bom waktu yang berdaya ledak besar, Langdon membantu pasukan penjaga paling setia di dunia bersama dengan seorang ilmuwan misterius nan cantik bernama Vittoria Vetra. Berdua, mereka memulai perburuan yang menyeramkan ke ruang-ruang bawah tanah yang terkunci rapat, kuburan-kuburan berbahaya, katedral-katedral yang lengang, dan tempat yang paling misterius di dunia ... markas Illuminati yang lama terlupakan. Ditulis dengan gaya jenaka namun cerdas, Dan Brown membawa kita berpetualang di pusat kebudayaan tertua di Eropa, Roma. Pemahaman kita dibuat terkaget-kaget dengan penyingkapan berbagai rahasia di balik tempat-tempat bersejarah dan karya-karya seni terkenal yang terdapat di sana. Dengan plot cerita yang melingkar-lingkar dan alur yang cepat, Brown sekali lagi berhasil menyiksa kita dengan sebuah novel yang sulit dilepaskan begitu kita mulai membacanya!

Download Buku Malaikat Dan Iblis * Karya Dan Brown

*Malaikat dan Iblis = Angel and Demons

Book "The Da Vinci Code"

0 comments


The Da Vinci Code adalah buku terpopuler saat ini. Terjemahan bahasa Indonesia (2004) tiap bulan dicetak ulang dan pada bulan Januari 2005 sudah cetakan ke-8, inipun diterjemahkan dari cetakan bahasa Inggris yang ke-45 yang dicetak sejak tahun 2003. Buku ini berturut-turut menjadi buku best seller versi The New York Times dan sekarang sudah dicetak lebih dari 17 juta, bahkan telah difilmkan.

Mengapa buku ini laris manis? Kelihatannya pembagian atas 105 bab dan epilog itu sangat memudahkan pembaca membaca buku setebal 631 halaman itu, dan isinya memang menarik karena menyajikan sebuah novel yang sekaligus bersifat thriller, teka-teki, detektif, konspirasi, dan skandal. Lebih dari itu, subjudul buku itu berbunyi: ‘Memukau nalar Mengguncang iman!’ dan ‘Misteri Berbahaya di Balik Karya Leonardo Da Vinci’.

Siapa yang tidak kenal ‘The Last Supper’ (Perjamuan Terakhir) dan ‘Mona Lisa’ lukisan Leonardo Da Vinci? Rahasia apa yang diungkapkan lukisan itu? Dan apakah yang ‘Memukau Nalar Mengguncang Iman’? Daya tarik itulah yang membuat buku ini popular, apalagi adanya sikap reaktif tokoh-tokoh Kristen terutama Sekretaris Paus yang melarang toko buku Katolik menjualnya, buku ini menjadi buku yang dicari.


Blog Award

 

FaiK Share. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution of FaiK theme by FaiK MuLaCheLLa | Distributed by Blogger Templates Blog Corp